ENDE — Dua orang suster dari Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) mengikrarkan kaul kekalnya di hadapan Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota, bertempat di kapela CIJ di Potu, Jumat (19/6).

Suster Roberta CIJ dan Suster Maria Vianey CIJ mengikrarkan kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan untuk kekal dalam sebuah perayaan ekaristi meriah. Perayaan yang diiringi koor Nafiri dari Paroki Worhonio ini mengambil tema “Aku Menarik Engkau dengan Tali Kesetiaan” (Hosea 11:4).

Perayaan ekaristi dipimpin Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota, didampingi Vikep Ende Romo Ambros Nanga Pr dan Provinsial SVD Ende P Amatus Woi SVD.

Uskup Agung dalam kotbahnya mengatakan, perayaan kaul kekal merupakan langkah penting yang diambil dua suster tersebut karena mereka yakin adanya tali kasih Tuhan yang mengikat mereka dengan kuat. Tema yang sifatnya puitis itu menunjukkan hakikat Allah yang diyakini oleh mereka. Ini merefleksikan apa hakikat dari kasih Tuhan itu. “Apalagi ini sebuah pilihan permanen”.

Dalam Kitab Suci diceritakan Israel berkali-kali mengkhianati janji Yahwe, namun berkali-kali juga Tuhan tidak pernah kehabisan kesabarannya. “Tuhan tidak pernah batalkan kasih setianya, bahkan dia memberikan pengampunan tanpa batas. Itulah Allah, Yahwe yang diyakini oleh Israel. Allah itu tidak hanya dipahami secara konseptual, melainkan dihayati dan dijumpai secara konkret,” kata Uskup.

Tali kasih Allah itu diikat lebih erat lagi oleh darah Kristus sendiri. Lambung Kristus yang terbuka mengalirkan air dan darah juga menunjukkan keterbukaan cintaNya kepada manusia. “Yesus adalah gambaran kasih Tuhan yang sempurna. Luka yang terbuka pada lambung Yesus, yang mengalirkan air dan darah sekaligus sebagai undangan bagi orang yang mencari kehidupan sejati,” kata Uskup.

Paulus memberikan kesaksian tentang jebakan kasih Tuhan, yang membuat dia tidak bisa keluar lagi. Kasih Tuhan itulah yang mengikatnya. “Tali kasih yang samalah yang mengikat dua suster ini untuk maju”.

Bagaimana kita bisa bertahan dalam janji ini di tengah dunia yang penuh dengan godaan. “Kita semua hadir di sini bukan saja mau menyaksikan dan memetaraikan panggilan ini, melainkan kita mau hadir dan bersatu dengan diri Yesus yang memanggil mereka. Yesus adalah sumber kasih,” katanya.

Karenanya Uskup mengajak dua suster ini agar “membiarkan diri mereka diteguhkan oleh Roh Allah dan tidak mencari sumber kekuatan di tempat lain tetapi kembali kepada Tuhan. Semuanya hanya bisa diatasi dengan bantuan Tuhan,” tegas Uskup. “Jika Tuhan yang memanggil maka Tuhan juga yang akan mengikat kamu dengan tali kasihnya”.

Suster Roberta dalam sambutannya mengatakan, Allah memanggil mereka dalam keterbatasan mereka, sehingga ikrar setia yang mereka janjikan merupakan percampuran antara yang ilahi dan manusiawi, antara keilahian dan kefanaan. Keputusan untuk kekal selamanya diambil dalam sebuah proses refleksi mengenai kasih Allah itu. “Sulit bagi kami melepaskan lagi tali kasih ini. Kami sudah terperangkap oleh pancingan kasih Tuhan. Tak ada alasan yang cukup bagi kami untuk menolak pancingan Tuhan,” kata Roberta.

Pemimpin Umum CIJ Suster Khatrin CIJ mengingatkan dua suster yang berkaul kekal ini bahwa ikrar setia mereka merupakan “kehendak bebas untuk menjawab ya terhadap panggilan Tuhan, yang sudah diperdengarkan di depan umum. Umat sudah mendengarnya dan sudah disatukan dengan korban Yesus Kristus”.

Dia mengingatkan lagi bahwa kekuatan hanya ada dalam Tuhan. “Tanpa Tuhan semuanya sia-sia”.*

frans obon

Edisi, 20 Juni 2009