ENDE — Pesta perak imamat atau 25 tahun usia imamat yang dirayakan oleh Romo Herman Embuiru Wetu Pr di Paroki Wolotopo, Kamis (11/6) dilihat sebagai momen penuh syukur. Romo Herman ditahbiskan 11 Juni 1984 di Katedral Ende oleh Uskup Agung Ende Mgr Donatus Djagom SVD, tepat 15 tahun usia tahbisan Uskup Djagom.

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota dan Vikjen Keuskupan Agung Ende Pater Yosef Seran SVD, dan Vikep Ende Romo Ambros Nanga Pr dan Prases Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret Romo Hubert Leteng Pr, puluhan pastor dan Bupati Ende Don Bosco M Wangge serta umat dari stasi-stasi di Paroki Wolotopo dan dari Kota Ende menghadiri pesta iman ini.

“Sikap dasar iman adalah berharap kepada Allah, sumber yang membuat kita bertahan dalam ziarah imamat. Rasa bersyukur adalah identitas seorang imam yang matang dan lahir dari kerendahan hati yang mendalam. Bersyukur menghindarkan kita dari dosa kesombongan. Karena kesombongan adalah akar dari dosa manusia zaman ini yang mau menyingkirkan Allah, meminggirkan Allah dan seolah-olah Allah tidak berperan dalam hidupnya,” kata Romo Adolf Keo Pr dalam kotbahnya.

Koor yang dibawakan SMAK Frateran Ndao dengan gaya inkulturatif menambah suasana perayaan begitu khidmat. Ada 30 penari ditambah 3 penari pria yang membawa tombak, parang, dan perisai.
Romo Herman dalam sambutannya mengatakan, selama 25 tahun imamatnya dia merasa dituntun oleh Tuhan dalam hidup dan karyanya. Dia mengatakan, puncak perayaan perak imamatnya sebenarnya pada kegiatan Musyawarah Pendidikan (Musdikat) Paroki Wolotopo, Sabtu (30/6).

“Ini hadiah terindah yang dapat saya berikan pada pesta perak imamatku. Peserta telah membuat rencana tindak lanjut dan akan terus membantu untuk mewujudkan rencana Musdikat paroki ini,” katanya.

Dia mengatakan, mohon maaf bila dalam perjalanan imamatnya ada umat yang menginginkan dia memberikan lebih dalam pelayanannya. Namun dia tetap berusaha untuk melayani umatnya dengan memberi dari apa yang dia miliki.

Dia mengajak umat yang hadir agar sebagai orang beriman hendaknya meniru teladan Yesus. “Jangan hanya pandai bernubuat, marilah kita juga pandai berbuat,” katanya.

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Seni Potokota mengatakan,Romo Herman adalah seorang pragmatis dan selalu gelisah melihat sesuatu yang tidak beres. Dia ingin cepat-cepat menuntaskan masalah meski dengan risiko. “Satu hal yang indah, bahwa dia selalu mau dapatkan yang bermakna. Dia selalu kreatif untuk berpikir dan berbuat baik,” kata Uskup Agung ini.

Uskup Agung minta keluarga-keluarga untuk menghidupkan lagi benih-benih panggilan di dalam keluarga kristen. “Saat ini sulit sekali cari bibit imamat di dalam keluarga-keluarga kita,” katanya. Karena itu Uskup mengajak umat untuk merelakan dan memotivasi anak-anak mereka mengikuti jalan panggilan Tuhan. “Karena itu jika dia sukses selama 25 tahun dalam karya sebagai seorang imam, itu sesuatu yang tidak gampang,” kata Uskup.

Bupati Ende Don Bosco Wangge mengatakan, banyak orang kecil yang mengenal Romo Herman karena dia tidak kenal lelah berkarya dengan mereka. Dia dikenal di seluruh kevikepan karena persentuhannya dengan bidang pendidikan. “Semua pelosok, semua SD Katolik dikunjunginya. Orang lebih kenal dia sebagai seorang guru,” kata Bupati.

Ketua Panitia Petrus Fi mengatakan, dalam rangka pesta perak imamat Romo Herman, ada dua kegiatan utama yakni Musdikat Paroki dan perayaan ekaristi. Musdikat mau membangun semangat tanggung jawab bersama dalam pendidikan.

Perayaan pesta perak ini dirancang sederhana sesuai dengan kebijakan Keuskupan Agung Ende untuk menyederhanakan semua bentuk pesta. Usai perayaan ekaristi undangan disuguh dengan bengkuang dan ubi serta manakan alakadar lainnya. Umat beramai-ramai menari wanda pau.

frans obon
Edisi, Jumat 12 Juni 2009