ENDE  — Yayasan Anak Indonesia (YAI) bekerja sama dengan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) memberikan beasiswa kepada 300 anak di Bajawa, Ende, dan Maumere. Program yang berjudul “Kasih Ayah Bunda” ini difokuskan pada program pendidikan berupa pemberian beasiswa dan kesehatan anak baik berupa pemberian makanan tambahan maupun masalah kesehatan dasar dan sanitasi lingkungan sekolah.

Endah Suhari, Ketua Bidang Kesra DPP WKRI Jakarta di aula pertemuan PSE di Jln Durian, Jumat (26/6) mengatakan, pilot project ini yang hanya dikembangkan di Flores dan Timor merupakan implementasi hasil Kongres WKRI di Bali 11 November 2008, yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, kesetaraan jender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan serta pendidikan politik.

Di samping program-program ini masih ada program pilihan seperti peningkatan gizi balita, pemberian beasiswa, pencegahan penyalahgunaan narkoba, gerakan nasional penanaman nilai yang mendasari pola dan tingkah laku, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Menurut Endah, antara WKRI dan YAI memiliki kesamaan keprihatinan terutama pada masalah pendidikan dan kesehatan anak. DPP WKRI yang memiliki struktur kepengurusan sampai ke akar rumput diharapkan akan lebih memudahkan bagi pelaksanaan pemberian beasiswa, peningkatan gizi serta kesehatan dasar dan sanitasi lingkungan sekolah tersebut.

WKRI, kata Endah, memiliki keprihatinan terhadap persoalan pendidikan dan kesehatan anak di bagian timur Indonesia. Karenanya program tiga tahun pertama (2009-2012) adalah bagian dari komitmen WKRI dan YAI untuk membantu pendidikan dan kesehatan anak-anak di bagian timur Indonesia.

“Kalau program tiga tahun pertama ini berhasil, maka program ini akan terus berlanjut. Kita berharap bantuan ini sungguh tiba di tangan anak dan pelaporannya dilakukan dengan baik. Jadi, harapan kita timbal balik yakni bantuan sampai ke tangan anak dan kami mendapatkan laporannya,” kata Endah.

Tim dari Jakarta terdiri dari Endah Suhari (DPP WKRI), Ratna Ayu (YAI Jakarta) dan Anton (YAI Jakarta). Peserta pertemuan 20 orang yang merupakan utusan dari WKRI Cabang Bajawa, Maumere, dan Ende.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) WKRI Ende Maria Matildis Banda di aula pertemuan PSE di Jln Durian menyampaikan terima kasih kepada YAI dan DPP WKRI Jakarta karena telah mempercayakan program ini kepada DPD WKRI Ende.

“Saya berterima kasih kepada YAI yang telah bersedia bekerja sama dengan WKRI Pusat dan memberikan kepercayaan kepada DPD WKRI Ende untuk melaksanakan program ini,” katanya.

Program pemberian makanan tambahan akan difokuskan pada anak usia 0-6 tahun dan masih-masing cabang akan terlaksana di dua paroki. Di Ende akan dilaksanakan di Kota Baru dan Wonda.

Sedangkan program pemberian beasiswa akan diberikan di 12 paroki (Paroki Katedral, Mautapaga, Onekore, Worhonio, Komandaru, Roworeke, Ndona, Wolotopo, Wolotolo, Detusoko, Moni, dan Ratesuba).

Penentuan paroki disesuaikan dengan rencana pembentukan Ranting WKRI dan cabang baru. Program beasiswa in berupa dana komite sekolah, keperluan sekolah (buku tulis, pensil, dan lainnya) serta seragam sekolah. Sedangkan program kesehatan dan sanitasi berupa dana kesehatan, kesehatan dasar (gigi, mulut, kuku, telinga, dan mata), pemberian odol, sikat gigi, sabun mandi, sabun cuci, ember dan gayung).

Program ini akan diberikan ke Paroki Katedral, Mautapaga, Onekore, Worhonio, Komandaru, Roworeke, Ndona, Wolotopo, Wolotolo, Detusoko, Moni. “Semoga program ini menumbuhkan semangat baru untuk lebih kreatif membaca masalah, mencermati, merumuskannya dalam program kegiatan organisasi, dan melaksanakannya dengan tanggung jawab,” katanya.

Dia menegaskan, program ini sebenarnya mau diberikan pada sekelompok anak di Klaten Jawa Tengah dan Flores nyaris tidak dapat. Tetapi dia berusaha bertemu dengan pihak YAI dan WKRI DPP Jakarta agar WKRI DPD Ende mendapatkan peluang tersebut.

”Saya harapkan ibu-ibu, terutama di Cabang Ende, Bajawa, dan Maumere sebagai pelaksana program menerima tanggung jawab ini dengan berani demi anak-anak kita, demi kemajuan pendidikan anak-anak kita,” katanya. Total biaya tiga program ini berkisar Rp300 juta hingga Rp500 juta per tahun.

 

— frans obon

Flores Pos | Berita | Pendidikan
| 27 Juni 2009 | p 8