Oleh Frans Obon

“MAI MERA LEKA SAO NGGA’E” (Mari kita ke rumah Tuhan). Tulisan sepotong ini ditempelkan pada pintu masuk sebelah kiri gereja Paroki Wolotopo, Kamis pekan lalu. Dua pintu masuk dihiasi dengan kertas perak berwarna-warni. Sementara di sebelah kiri altar di belakang patung Bunda Maria, pada sebuah kain berwarna biru yang di atasnya lagi ditaruh kain adat Lio ditulis angka 25 tahun.

Angka itu menunjukkan usia 25 tahun imamat Romo Herman Embuiru Wetu Pr. Imam sulung dari paroki tersebut ditahbiskan 11 Juni 1984 di Katedral Ende oleh Uskup (emeritus) Keuskupan Agung Ende, Mgr Donatus Djagom SVD. Saat itu usia tahbisan uskup Donatus Djagom 15 tahun. Tanggal 11 Juni 2009, tepat pada perayaan tersebut usia tahbisan uskup Djagom sudah 40 tahun.

Tiga penari pria. Yang paling depan memutar-mutar badannya membentuk lingkaran. Memegang tombak di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Dua pria lainnya agak ke belakang memegang sebilah parang di tangan kiri dan perisai di tangan kanan. Gerakan kaki mereka mengikuti irama lagu pembukaan yang dinyanyikan koor SMAK Frateran Ndao. Lagu pembukaan ini secara khusus ditulis Yakobus Ari, seorang pencipta lagu yang cukup dikenal luas di Kabupaten Ende. Di belakang mereka tiga puluh penari perempuan terdiri dari sepuluh penari anak-anak, dua puluh penari dewasa. Yang anak-anak mengenakan baju berwarna merah dipadu kain tenun Lio. Yang kelompok dewasa, sepuluh orang mengenakan baju biru. Sepluh lainnya mengenakan kuning. Semuanya dipadukan dengan kain adat Lio.

Di belakang mereka puluhan imam berarak menuju altar. Di antara para imam itu ada Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota. Dia tidak mengenakan pakaian seorang uskup. Sehingga umat yang sudah tahu dia menghadiri perayaan itu bertanya-tanya di mana uskup. Ini sebenarnya gesture, isyarat yang mau diperlihatkan seorang uskup bahwa pesta imamat seorang imam harus berlangsung dalam sebuah kesederhanaan. Uskup berada di antara para imamnya untuk mendorong mereka menghayati mengenai pentingnya hidup ugahari dan sederhana sebagai bagian tak terelakan dari penghayatan imamat mereka di tengah kehidupan masyarakat yang juga sederhana.

Romo Herman didampingi Vikep Ende Romo Ambros Nanga Pr dan Pastor Paroki Romo Stef Wolo Itu Pr memimpin perayaan ekaristi. Bacaan pertama yang diambil dari Mazmur dan bacaan Injil dari Magnificat Maria semuanya memadahkan lagu pujian dan syukur dari seorang peziarah iman. Seperti seekor rusa mendambakan air. Magnificat Maria adalah madah seorang yang dipilih Tuhan untuk menjadi Bunda Penebus.

“Aku akan bersyukur lagi kepadanya,” kata Romo Adolf Keo Pr yang membawakan kotbah pada perayaan ini. Kata-kata ini diambil dari bacaan Mazmur hari itu. Mazmur 42. “Karena yang mahakuasa melakukan sesuatu yang besar kepadaku”. Moto syukur perak imamat Romo Herman memang berbunyi demikian: “… yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan besar kepadaku, kuduslah namaNya…” (Luk. 1:49).

Rasa syukur, kata Romo Adolf, adalah sikap dasar iman, sikap untuk berserah diri. Bahkan identitas kematangan imamat seorang imam tercermin di dalam rasa syukur ini. Rasa syukur lahir dari kerendahan hati. “Sikap dasar seorang imam adalah berharap kepada Allah. Allah yang membuat dia bertahan dalam ziarah imamatnya,” katanya.
Namun justru dalam dunia modern yang menjadi ladang pengabdian seorang imam, rasa syukur menghilang. Manusia tidak lagi mengandalkan Allah, melainkan mengandalkan dirinya sendiri, mengandalkan kekuatannya sendiri. Allah disingkirkan, dibuat seolah-olah Allah tidak lagi berperan dalam hidup manusia. Manusia modern, kata Romo Adolf, ada dalam “budaya kematian”. Karena akar dari dosa adalah kesombongan. Kesombongan manusia yang hanya mau mengandalkan kekuatan dirinya dan bukan kekuatan Allah. Seorang imam yang menimba kekuatan dari Allah dalam ziarah hidupnya akan selalu bersyukur. “Orang yang tidak tahu bersyukur tercermin dalam adanya kesenjangan antara kata dan perbuatan. Dia akan menari di tengah penderitaan orang lain, di tengah penderitaan masyarakatnya”.

Ladang Tuhan, tempat seorang imam mengabdi adalah dunia tempat kita berpijak. Dunia yang ada di sekitar kita. Dunia riil bukan dunia khayalan. Dunia tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Dunia yang penuh tawa, penuh suka dan duka. Dunia dari orang-orang yang putus sekolah, dunia orang-orang yang makan tiga kali sehari susah, dunia orang yang masih ambil air di tempat jauh, dunia yang penuh dengan onak dan duri. Dalam konteks Flores, ladang Tuhan adalah tempat kita berpijak. Bukahkah Kitab Suci mengatakan, jika ada orang yang mengatakan Tuhan ada di sana, Tuhan ada di situ, yang membuat kita ombang ambing, maka sesungguhnya Tuhan ada di sini, ada di antara kita, ada di depan mata kita. Tahta seorang raja adalah rakyat dan ladang seorang imam adalah dunia yang dia layani tanpa kenal lelah.

Dunia yang penuh onak dan duri itulah yang diabdikan Romo Herman. Bupati Ende Don Bosco M Wangge dalam sambutannya mengatakan, Romo Herman lebih banyak dikenal di kalangan orang kecil. Dia dikenal karena telah berbuat banyak. Dia dikenal di dalam dunia pendidikan, ladang pengabdiannya. “Semua pelosok, semua sekolah dasar Katolik disentuh sehingga dia lebih dari seorang guru,” katanya. Meski kendaraannya sering macet sepanjang jalan, laptopnya pentium II, “Dia tidak pernah putus asa”. Ladang pendidikan adalah reksa pastoral yang lagi sekarat. “Pendidikan kita sedang menuju kehancuran,” kata Bupati. Dan justru di ladang inilah Romo Herman mengabdi.

Dengan menjadi imam, tidak berarti seorang imam telah berubah menjadi manusia super. Tetapi dia menghayati itu semuanya dalam “sebuah bejana tanah liat”. Romo Herman menyadari hal itu. Karenanya dia berkali-kali menyampaikan maaf. “Mungkin selama pelayanan saya, ada umat yang menuntut lebih tapi saya memberinya dalam segala keterbatasan saya, saya minta maaf”.

Namun komitmen memberikan apa yang bisa disumbangkan seorang imam dalam 25 tahun imamatnya dia perlihatkan dalam Musyawarah Pendidikan (Musdikat) 30 Mei lalu di aula Paroki Wolotopo. “Puncak perayaan imamat saya sebenarnya sudah berlangsung pada Musdikat lalu. Hari ini hanya perayaan ekaristi saja,” katanya.

Sebanyak seratus lima puluh orang menghadiri musdikat ini. Pertemuan dirancang untuk dibangunnya dana solidaritas pendidikan di tingkat paroki. Dana solidaritas ini bukan dana gratis, melainkan bagaimana umat menyisikan sebagian dari pendapatan mereka untuk saving bagi pendidikan. Dana ini bukan terkumpul dari kelimpahan, melainkan dari sebuah perencanaan hidup yang lebih teratur. “Tidak ada orang yang begitu miskin sampai dia tidak bisa memberi, dan tidak ada orang yang begitu kaya sampai dia tidak bisa menerima,” bunyi pepatah kuno. Musdikat ingin mendorong kebersamaan dalam membangun pendidikan.

Sejak 1997 Keuskupan Agung Ende menggalang dana abadi pendidikan pada bulan Mei. Keuskupan mau membangun dana solidaritas pendidikan Katolik. Musdikat tingkat keuskupan berlangsung di Mataloko Oktober 1997. Uskup Agung Ende (almarhum) Mgr Longinus da Cunha dalam surat gembalanya menekankan sekolah-sekolah Katolik menjadi bidang penting dari reksa pastoral Gereja Katolik. Musdikat II digelar Juli lalu di Ende.

Uskup Agung Ende Vincent Sensi Potokota memberikan apresiasi digelarnya Musdikat Paroki Wolotopo ini, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan 25 tahun imamat Romo Herman. Uskup bilang ini sikap mulia karena “Romo Herman tidak mau menjadikan dirinya pusat perayaan ini, melainkan dia memberi untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar manfaatnya bagi umat yang dilayaninya”. Pesta ini memang digelar sederhana sekali.

Uskup menekankan betapa pentingnya melakukan perubahan dengan pintu masuk adalah bidang pendidikan. Tiap kali Uskup berkunjung ke paroki-paroki, dia selalu menekankan pentingnya pendidikan. Sejalan dengan semangat Musdikat Paroki Wolotopo yang mau melahirkan agen-agen perubahan, maka Uskup menegaskan bahwa “Kita sendirilah pelaku perubahan itu, bukan orang lain”.

Uskup menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan bukanlah terutama ada pada guru, melainkan terutama “orang tua” karena merekalah yang ikut serta dalam seluruh hidup seorang manusia terutama pada usia pendidikan.

“Kita sering persalahkan orang lain. Kitalah yang sebenarnya tidak siap menghadapi perubahan zaman dan tantangan-tantangan baru. Kitalah pelaku perubahan, kita yang tentukan, kitalah yang melahirkan anak-anak kita, itu menjadi tanggung jawab kita, mulai dari rumah,” katanya. Dia minta orang tua harus tahu anaknya ada di mana. “Jangan dari rumah dia pakai seragam tapi pada jam sekolah dia ada di tempat lain. Tanggung jawab kita untuk pantau anak-anak kita”.

Uskup mengajak orang tua untuk membekali anak-anak mereka dengan iman dan moral. Namun dia mengingatkan bahwa kalau orang tua sendiri tidak memiliki kearifan-kearifan budaya bagaimana dia tahu dan apa yang bisa dia berikan kepada anak-anaknya.

Roh yang membakar habis diri seorang imam dalam menziarahi kehidupan imamatnya adalah sebuah kerelaan. Mudah disebutkan tapi susah-susah gampang dalam praktiknya. Para imam, kata Uskup, ditahbiskan untuk memberikan sesuatu kepada umat yang dilayaninya bukan dalam kelimpahan melainkan dalam keterbatasan.

Romo Herman sebagai imam baru pertama kali ditempatkan di Riung Wangka, Kabupaten Ngada selama lima tahun (1984-1989). Romo Herman adalah sosok pragmatis yang ingin bergerak cepat. Dia tidak mau bertele-tele. Ketika ditemukan masalah, dia langsung bergerak.
“Sekarang dalam perayaan ini kita bergembira, harum mewangi, tapi itu mahal sekali harganya. Jika dia sukses selama 25 tahun berkarya sebagai seorang imam, itu sesuatu yang tidak gampang,” katanya.

Uskup langsung bicarakan soal panggilan untuk menjadi imam. “Situasi sekarang ini, sulit sekali cari bibit panggilan. Semakin mahal. Ini butuhkan kerelaan dan motivasi dari keluarga”.

Selain di dalam gereja, di sisi kiri dan kanan serta di depan umat penuh sesak. Lagu-lagu bernuansa inkulturatif menambah kemeriahan perayaan. Romo Herman dengan sebatang lilin didampingi Romo Luiz kembali mengikrarkan janji setianya di dalam ziarah imamatnya. Dia sekali lagi bernazar untuk memberi diri seutuhnya sampai habis.

“Aku akan bersyukur lagi kepadanya”. Itulah kata-kata Mazmur 42 dalam bacaan pertama perayaan tersebut. Seorang imam adalah seorang peziarah iman yang terus berusaha mencintai Tuhan yang memanggilnya dan mencintai manusia yang dilayaninya. Jiwanya haus akan Allah yang hidup agar dia sendiri akan hidup dalam roh yang membebaskan dan kebenaran yang memerdekakan. Di suatu titik dia berhenti sejenak untuk merefleksikan kembali pencapaiannya dalam hidup imamatnya. How long can you go dan how low can you go dalam praksis hidup di tengah masyarakat. Di titik 25 tahun imamatnya Romo Herman mengatakan, “…. yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan besar kepadaku, kuduslah namaNya… (Luk 1: 49). Dia pantas bermadah. Tapi 25 lima tahun bukanlah etape akhir dari ziarah imamatnya. Imamat adalah ziarah tanpa henti sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Dia yang memanggil seorang imam. Karena itu madah seorang peziarah iman adalah madah yang tak pernah tuntas. Dia akan selalu berusaha untuk mencapai kepenuhan. Dia akan tetap seperti rusa yang merindukan air di tengah kegersangan dunia yang dia layani dan dia akrabi tiap hari dan tiap tarikan napasnya.

Edisi, 20 Juni 2009 | 1,15