Oleh Frans Obon

ENDE — DALAM pertemuan dua hari, 28-29 April 2009 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo para manajer koperasi kredit membahas pembenahan manajemen dan standarisasi dan pengontrolan pengelolaan keuangan.

Pertemuan dua hari ini bentuknya lokakarya evaluasi kinerja manajemen dan peluncuran buku Rupiah Emas.

Sebagai lembaga keuangan dengan sumber dana dari anggota, koperasi kredit mesti mengambil langkah standarisasi pengelolaan keuangan dan menciptakan alat kontrol keuangan.

Di penghujung akhir dari pertemuan dua hari itu, diluncurkan buku berjudul “Rupiah Emas”. Buku ini ditulis Wakil Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Jakarta Theofilus Woghe. Buku ini dimaksudkan agar para manajer memiliki pedoman, data dan sumber informasi mengenai pengelolaan keuangan koperasi kredit. Pada gilirannya para pengurus dapat mengambil keputusan berdasarkan data keuangan dan informasi yang diberikan manajer.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nagekeo ini sudah lama malang melintang di gerakan koperasi kredit di Flores. Dia pernah jadi Ketua Pusat Koperasi Kredit Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo. Di bawah kepemimpinannya, beberapa kali para pengurus koperasi kredit melakukan studi banding ke daerah lain dan bahkan di luar negeri. Studi banding itu terus dilakukan, di bawah Ketua Puskopdit sekarang Joseph Dopo, dengan manajer Puskopdit Mikhael H Jawa.

Dalam peluncuran buku ini Rabu kemarin, sebagai tanda penghormatan Theofilus Woghe dikalungi selendang tenun adat Ende-Lio oleh Ketua Koperasi Kredit Boawae Alfons Jemu.

Manajer Puskopdit Mikhael Jawa mengatakan, buku “Rupiah Emas” ini merupakan alat untuk mendeteksi kinerja manajemen teristimewa kredit macet. “Bukan untuk menyelesaikan kredit macet,” katanya. Dengan data-data yang tersedia, para manajer langsung tahu tingkat rasio kredit macet sehingga memudahkan mereka dan para pengurus mengambil tindakan.

Buku ini telah diolah berulang kali berdasarkan konsep-konsep manajemen rasional yang dipraktikan di beberapa lembaga keuangan. Prinsip dan konsep-konsep itu kemudian diolah dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan koperasi kredit. Prinsip-prinsip yang ada dalam buku ini akan ditawarkan pada pertemuan di Kalimantan Mei mendatang. Sudah dipastikan akan dipakai oleh gerakan koperasi kredit di seluruh Indonesia.

Barangkali karena alasan inilah, dalam sambutan mewakili koperasi kredit Rabu kemarin, Ketua Koperasi Kredit Boawae Alfons Jemu mengatakan, buku “Rupiah Emas” ini akan menjadi sumbangan dari “Nusa Bunga untuk Nusantara”.

Dia bilang buku ini merupakan “sumbangan dari Flores untuk Nusantara (untuk gerakan koperasi kredit). Pak Theo telah melahirkan ide-ide baru”. Namun dia mengingatkan, jika buku Rupiah Emas ini lahir dari Flores, maka sudah seharusnya gerakan koperasi kredit di Flores menguasai dan mempraktikannya. “Konsep-konsep yang ada dalam buku ini perlu dikuasai, bawa pulang ke kopdit masing-masing, dan bawa pulang untuk berbuat sesuatu,” katanya.
Theo bilang dalam sambutannya, buku ini diterbitkan 5 Maret 2009 bertepatan dengan hari dia pensiun dari pegawai negeri sipil. Dia pensiun dini dari pegawai negeri sipil. Dia mengatakan, buku ini menandai sebuah babak baru dalam kehidupannya, yang akan dia abdikan untuk gerakan koperasi kredit.

Buku setebal 54 halaman ditambah daftar kepustakaan, menurut dia, sebuah bentuk terima kasih dan merupakan refleksi dari pengalamannya selama terlibat dalam gerakan koperasi kredit di Flores.

Buku ini, ujarnya, adalah sebuah alat, sebuah bahasa keuangan. Alat bantu bagi para manajer koperasi kredit untuk mengetahui data-data keuangan koperasi. Data-data ini dianalisis dan diolah untuk bahan informasi. Pada gilirannya data dan informasi ini akan memudahkan pengurus mengambil keputusan. Keputusan itu ada dua sisi: benar atau salah, baik atau buruk. Baik dan benar berkaitan dengan logika dan baik dan buruk berkaitan dengan etika.

“Intinya agar pengurus paham bahasa keuangan sehingga dengan tepat ambil keputusan,” katanya. Dia bilang menurut Paul Krugman, krisis keuangan itu terjadi karena tidak berfungsinya alat keuangan.

“Saya beranikan diri mempersembahkan buku ini kepada kita semua. Ke depan tantangan kita makin berat. Jauhi egoisme dan rasa tamak. Tugas kita adalah bagaimana memberi rasa aman dan kepercayaan kepada anggota. Secara internal jauhi prasangka-prasangka dan kompetisi yang tidak sehat karena akan menghancurkan kita bersama,” katanya.

Andreas Reku, Wakil Ketua Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, Nagekeo mengatakan, kurun waktu 1970-an hingga 1999 merupakan masa-masa sulit bagi koperasi kredit. Tapi dalam kurun waktu tahun 2000 hingga sekarang banyak hal-hal dibenahi dan banyak hal baru diperkenalkan baik melalui studi banding maupun pelatihan-pelatihan. Semua itu telah mengubah wajah koperasi kredit.

“Pada masa itu ada nama di tingkat pusat, tapi tidak penting. Tapi kesepakatan Danau Toba telah mendorong kita untuk berubah dan berkembang lebih baik,” katanya. Dampaknya tahun 2006 Puskopdit masuk 10 besar tingkat nasional. Sekarang Puskopdit Bekatigade jadi 3 besar.

Buku Rupiah Emas merupakan sumbangan besar dari Puskopdit Bekatigade untuk gerakan koperasi kredit di Indonesia. “Kalau dulu kita menerima bantuan dan bimbingan dari pihak lain, tapi sekarang kita menjadi pemberi. Ini sumbangan berharga untuk gerakan koperasi kredit di Indonesia,” ujarnya.

Dia juga bilang sebagai pemilik dari buku Rupiah Emas ini, “kita harus menerapkannya. Amat memalukan kalau kita sendiri tidak menggunakannya”.

Buku ini kemudian diberikan satu per satu ke pengurus Puskopdit dan para manajer dari koperasi kredit.

PUSKOPDIT membina 61 buah koperasi kredit tingkat primer di tiga kabupaten yakni Kabupaten Ende, Ngada, dan Nagekeo. Pertumbuhan anggota dan asetnya meningkat. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan anggota cukup bagus. Tahun 2005 anggotanya sebanyak 18.547 orang, tahun 2006 sebanyak 26.112 orang, tahun 2007 sebanyak 33.693, tahun 2008 sebanyak 45.725 orang, dan 2009 47.855 orang.

Aset koperasi pada tahun 2005 sebesar Rp6,1 miliar lebih, tahun 2006 sebesar Rp94,5 miliar, tahun 2007 Rp131,8 miliar; tahun 2008 sebesar Rp194,4 miliar, dan tahun 2009 sebesar Rp203,4 miliar.
Pinjaman (kredit) yang beredar di tangan anggota. Pada tahun 2005 sebesar Rp55,9 miliar lebih, tahun 2006 sebesar Rp Rp79 miliar lebih, tahun 2007 Rp109,6 miliar lebih, tahun 2008 Rp165,3 miliar, dan 2009 sebesar Rp172 miliar lebih.

“Ini uang dari anggota dan dipinjamkan kembali oleh anggota. Ini berarti tidak ada uang dari daerah ini yang keluar. Uang anggota berputar di antara anggota sendiri,” kata Mikhael Jawa, suatu ketika kepada saya.

Koperasi kredit, dulu dikenal dengan sebutan credit union, pertama diperkenalkan oleh Gereja Katolik pada tahun 1972. Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi atau waktu itu dikenal sebagai Delegatus Sosial, Keuskupan Agung Ende dijabat Pastor B J Baack SVD. Juni 1974, credit union Jayakarta bekerja sama dengan Delegatus Sosial Keuskupan dan CUCO menggelar kursus dasar mengenai credit union. Pesertanya datang dari seluruh Flores.

Karena banyaknya credit union yang dibentuk, maka disepakati dibentuk Badan Pembina dan Pengembangan Credit Union (BPP CU) wilayah Nusa Tenggara Timur Bagian Barat dengan cakupan wilayah Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat. Pengurusnya Guido Lakapung, Frans Fernandez dan Agus Beu Mude.

Pada tahun 1978, badan ini diganti namanya: Badan Pengembangan Daerah Koperasi Kredit NTT Barat dengan wilayah koordinasi yang sama. Tahun 1982 diubah lagi jadi Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D – NTT Barat). Februari 1995, dibentuklah pra-pusat koperasi kredit (Puskopdit) Sumba dan Manggarai.

Pada 22 Agustus 1998 koperasi kredit primer sepakat mengalihkan status BK3D NTT Barat menjadi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Bekatigade Ende-Ngada. Badan ini mendapat pengesahan dari pemerintah dengan nomor badan hukum: 03/BH/KWK.24/III/1999 tanggal 13 Maret 1999. Wilayah kerjanya Kabupaten Ende, Ngada, dan Nagekeo.*

Edisi,  30 April 2009