Oleh Frans Obon

ENDE — PULUHAN anak-anak Sekami duduk beralaskan koran di depan gedung Paroki Wolotopo, Keuskupan Agung Ende, Kamis 25 Juni lalu. Trik sulap diselingi cerita Kitab Suci oleh Bartholomeus Eddy Sjamsuri (75 tahun) membuat anak-anak makin betah saja. Nyanyian, iringan gitar dari Ari Udju, para suster dan para pendamping Sekami menambah sukacita anak-anak.

Anak-anak Sekami Wolotopo
Anak-anak Sekami Wolotopo

Tiga benang dengan warna berbeda diikat sambung menyambung. Trik sulap menjadikan tiga benang berbeda itu tanpa simpul lagi alias hanya ada satu tali tapi tetap dengan warna berbeda. Trik ini menjelaskan Allah Tri Tunggal, hubungan tak terpisahkan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Selembar kertas putih dibuat sedemikian dan dari dalamnya keluar bunga mawar merah. Trik ini diselingi dengan cerita cinta kasih dan saling mengampuni.

Kertas koran bekas disobek. Diberikan ke tiga orang suster, seorang bapa dan seorang ibu. Mereka menggulungnya. Lalu dirobek kecil-kecil. Edy Sjamsuri mengumpulkannya dari tangan mereka. Ditarik di tengah-tengahnya. Satu per satu dari sobekan kertas bekas itu dikeluarkanlah kain warna merah dengan tulisan K, kain putih huruf A, kain biru huruf S, kain kuning I dan hijau huruf H. Kain itu diberikan kepada kelima orang tadi dengan formulasi huruf KASIH. Inilah trik yang paling memukau anak-anak dan mengakhiri kegiatan Sekami hari itu.

Kegiatan ini digelar oleh Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan berbasis di Jakarta. Kelompok ini datang ke Flores dalam rangka 75 tahun Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) yang akan dirayakan 25 Maret 2010 mendatang dan dalam rangka pesta perak atau 25 tahun imamat Pater Bernard Beru SVD. Pada saat yang bersamaan di aula paroki, kelompok yang sama memberikan pengobatan gratis.

Anak-anak Sekami Wolotopo
Anak-anak Sekami Wolotopo

Keesokannya melayani pengobatan gratis di Ngalupolo. Eddy Sjamsuri dari Komunitas Perekat (Pendampingi Retret dan Rekoleksi Katolik) Keuskupan Agung Jakarta.

Dia belajar trik sulap pada Pastor Ten Berghe SJ pada usia 14 tahun. Selepas bekerja selama 18 tahun pada Bank Asia Afrika, masa pensiunnya dia isi dengan kegiatan pendampingan retret dan rekoleksi. Dia dari Paroki Maria Bunda Karmel Kebun Jeruk Jakarta. Dia ikut mendampingi kelompok retret dan rekoleksi karena dorongan dari istrinya Rialina Iwan. Istrinya ingin agar hidupnya tetap terisi selama pensiun untuk melayani dan membawa penghiburan rohani kepada yang lain.

”Saya pernah mementaskan trik sulap ini. Begitu turun dari panggung ada yang mendekati saya dan ingin tahu apakah ada kekuatan lain di balik sulap ini? Dia takut itu magic. Dia mau ajak saya ikut dalam kelompok pelayanan iman. Saya bilang trik ini bisa dipelajari. Siapapun bisa. Saya menggantikan simsalabim dan adakadabra dengan cerita Kitab Suci,” katanya kepada saya usai kegiatan. Dia mengajari saya dan Romo Luis dua trik. Trik demi trik dibuat lalu diselingi cerita Kitab Suci. ”Tergantung konteksnya,” katanya.

”Saya tidak mau terikat pada satu kelompok. Saya melayani semua orang. Anda lihat orang-orang bisa senang, bersukacita. Hal-hal itulah yang menyenangkan dan tidak bisa dibeli dengan uang atau dibeli dengan apa saja. Kita mendapatkan sukacita dari pelayanan rohani seperti ini,” katanya.

Dia bilang pelayanan rohani seperti ini memberi dia kegembiraan. Karenanya dia tidak pernah pasang tarif atau minta apapun. ”Dikasih saya ambil, tapi tidak pasang tarif satu kali show dibayar berapa. Karena kalau pasang tarif, itu namanya komersial,” ujarnya. Namun justru karena inilah, ”Saya tidak pernah kekeringan. Istilahnya dompet belum kosong, sudah ada lagi. Yang kita peroleh adalah sukacita”.

Kegembiraan anak-anak Sekami makin bertambah karena pada kesempatan Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan membagikan alat tulis dan tas sekolah kepada semua anak yang hadir.

Direktur KKI Konferensi Wali Gereja Indonesia Pater Patris Pa SVD mengatakan, Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan Jakarta ini adalah kelompok awam misioner, yang telah melayani berbagai kelompok masyarakat di Indonesia. Mereka pernah melayani kelompok masyarakat di Nias, Aceh, Ambon, Poso. Membantu daerah-daerah yang kekurangan gizi. Membantu pendidikan anak-anak kurang mampu, bantuan peralatan sekolah, pakaian sekolah, dan pengobatan. Mereka ke Flores berkenaan dengan pesta 75 tahun Suster-Suster Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) dan perayaan 25 tahun imamat Pater Bernard Beru SVD – perayaannya telah dilangsungkan di Ngalupolo, tempat kelahirannya Minggu, 28 Juni lalu.

Pendampingan terhadap anak-anak dan remaja di berbagai keuskupan telah lama dilakukan. Yang ditekankan di sini adalah memberi dimensi baru yakni memberi semangat misioner. Aspek misioner ini yang ditekankan. ”Anak-anak adalah juga misionaris yang bisa membantu anak-anak lainnya”.

Regio Nusra secara teratur telah melakukan berbagai kegiatan dan menggelar berbagai program pelatihan untuk para pendamping melalui School of missionary animation (SOMA). Karena kreativitas dari kegiatan Sekami ini tergantung pada tim pendampingnya. KKI sudah menyiapkan modul-modul pendampingan, tetapi modul-modul ini akan jadi hidup dan penuh daya jika diolah kembali secara kreatif oleh tim pendamping. Di sini diperlukan satu tim inti yang kuat di tingkat keuskupan, bahkan bila perlu sampai ke tingkat paroki.

Fasilitator utama dan para pendampingi ini perlu diberi pembekalan.
Karena biasanya tim pendampingi itu adalah anak-anak muda yang belum menikah. Begitu mereka menikah, maka berhenti pula keterlibatan mereka di Sekami. ”Kita juga perlu membuat program kaderisasi,” katanya.

Pelatihan bagi tim inti dan pendamping penting karena anak-anak itu bersemangat atau tidak tergantung pada mereka. Ada banyak modul yang disiapkan secara liturgis, ada modul tematis, ada tempat-tema penting sekitar perutusan dan misi. ”Masalahnya modul telah disiapkan oleh KKI tapi pendamping belum siap. Kita memberikan kesempatan kepada para pendamping agar menggunakan modul-modul ini atau panduan-panduan yang lebih sesuai. Kesulitannya di sini karena kurangnya kreativitas dan inisiatif. Kalau menggunakan modul yang ada sudah sulit, apalagi mencari metode baru yang lebih kreatif. Yang dibutuhkan dalam mendampingi anak-anak adalah kreativitas dan inisiatif,” katanya.

Namun, meski kreativitas masih terbatas, semangat dan komitmen para pendamping cukup baik. ”Itu yang saya rasakan,” katanya.
Gerakan Sekami diarahkan agar anak-anak mau jadi misionaris cilik.

Pendamping membantu agar anak-anak mengenal Yesus sebagai sahabat dan Juruselamat. Sekami mau ikut amibil bagian dalam misi Yesus sesuai dengan kesanggupan anak-anak. ”Banyak orang kira anak-anak tidak bisa wartakan Yesus. Kegiatan ini akan membantu membangun kesadaran di dalam diri anak-anak mengenai doa, tapa, derma, dan kesaksian. Sehingga motonya adalah Children Helping Children (Anak Menolong Anak)”. Mereka juga bisa jadi misionaris di tengah keluarga. Mereka bisa mendorong orang tua untuk pergi ke gereja pada hari Minggu.

Menurut Pater Patris, jika menelusuri riwayat panggilan imam atau biarawan, misalnya, mereka akan mengatakan, ”Dulu kami ikut Sekami. Jika kegiatan Sekami dibuat secara kreatif, anak-anak bisa jadi misionaris,” katanya.

Dari sejarah kita tahu, gerakan Sekami tumbuh dari gereja lokal dan dilakukan oleh awam. Karena pengaruhnya sudah meluas ke seluruh dunia, maka diangkat ke tingkat kepausan. Sekami didirikan oleh Pauline Maria Jeriko pada tahun 1882 dengan tujuan menghimpun perempuan-perempuan yang bekerja di perusahaan ayahnya untuk kepentingan misi gereja universal. ”Jadi, di sini peranan kaum awam”.
Sekami amat relevan. ”Anak-anak kita butuh pendampingan iman.”

Kolekte yang mereka kumpulkan dapat membantu anak-anak terlantar, membantu pendidikan anak-anak lainnya. Children Helping Children itu sungguh bermanfaat. Anak-anak dilatih berdoa, memberi derma, dan memberikan kesaksian. Trik sulap disertai cerita Kitab Suci adalah salah satu bentuk kreativitas. Masih ada jutaan kreativitas lainnya yang belum kita gali dari kedalaman diri kita.

Edisi, 1-2 Juli 2009 | p 8