Dari kiri ke kanan: Mikhael H Djawa, Andreas Reku, Kristo Tere, anda Michelle Semwogerere. Photo by frans obon
Dari kiri ke kanan: Mikhael H Djawa, Andreas Reku, Kristo Tere, anda Michelle Semwogerere. Photo by frans obon
ENDE — Gerakan koperasi kredit (Kopdit) di bawah naungan Pusat Koperasi Kredit Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo (Puskopdit BENN) menekankan pentingnya karyawan koperasi meningkatkan kualitas pelayanan dan kualitas komunikasi mereka kepada anggota.

Manajer Puskopdit BENN Mikhael Hongkoda Jawa dalam penutupan acara pelatihan calon karyawan dari koperasi kredit di bawah Puskopdit BENN, Kamis (30/7) mengatakan, karyawan koperasi kredit harus terus menerus meningkatkan kualitas diri, siap pakai, profesional sehingga mampu bersaing dengan lembaga keuangan lainnya.

“Kalau pelayanan kita berkualitas, maka kita bisa bersaing dengan lembaga keuangan lainnya. Kita hanya bisa bersaing dengan kualitas pelayanan jika dibandingkan lembaga keuangan lain yang maju dalam informasi dan tekonologi (IT),” katanya.

Pelatihan 31 calon karyawan ini yang berlangsung 60 hari adalah bagian dari program profesionalisasi manajemen koperasi kredit yang sudah dikembangkan sejak 2007. Selama tahun ini sudah dua kali dilakukan pelatihan, pertama Februari-Maret dan angkatan kedua sejak 1 Juni hingga 30 Juli. Fasilitaor terdiri dari Mikhael H Jawa, Kristo Tere, Kosmas Lawa, dan Filomena Peti. Puskopdit BENN telah melatih sekitar 200 karyawan koperasi kredit dalam soal keuangan, skill komunikasi dan pelayanan, dan manajemen.

Namun dia mengingatkan meskipun bertumbuh sebagai lembaga keuangan, namun koperasi kredit tidak akan pernah melupakan sejarah dan filosofi dasar gerakan koperasi.

Peserta pelatihan. Photo by frans obon

“Koperasi kredit sebagai organisasi bisnis akan tetap mempertahankan hubungan kita dengan para anggota lewat pelayanan, inovasi-inovasi produk, dan inovasi pelayanan. Sehingga pelatihan selama selama 60 hari merupakan satu proses persiapan untuk bekerja lebih efektif dan efisien,” kata Mikhael.

Pelatihan yang diselenggarakan Puskopdit, ujarnya, merupakan kesepakatan para manajer koperasi agar karyawan “tidak bekerja dalam kegelapan”.

Dia mengingatkan agar karyawan koperasi kredit tidak melupakan sejarah dan jasa-jasa para pendahulu mereka, karena jasa para pendahulu yang menyebabkan koperasi bertumbuh pesat seperti sekarang ini. Dia juga mengatakan, karyawan koperasi kredit perlu membangun moralitas kerja yang lebih baik dengan memperhatikan tiga pilar koperasi.

“Semakin kita belajar, semakin kita tidak tahu. Karena itu pendidikan dan pelatihan berlanjut akan terus dilakukan,” katanya.

Salah satu pilar koperasi, katanya, adalah kemandirian atau keswadayaan. “Biar kita punya aset cukup besar, tapi kalau sumber daya manusianya tidak mandiri, tidak siap, maka semua itu percuma”.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah solidaritas.

Solidaritas itu harus diwujudnyatakan dalam sikap bersedia membagi kemampuan dan ilmu pengetahuan kepada yang lainnya. “Apa yang kamu dapatkan dari pelatihan ini jangan digenggam, tapi ditularkan kepada yang lainnya”.

Dia bilang kaderisasi dan regenerasi tidak berjalan karena tidak adanya saling membagi pengetahuan dan pengalaman kepada yang lainnya. “Jadi solidaritas tidak saja soal uang, tapi juga membagi pengetahuan dan pengalaman”.

“Semakin kita belajar, semakin kita tidak tahu. Karena itu pendidikan dan pelatihan berlanjut akan terus dilakukan”

“Sampai di lapangan, jangan kancing ilmu pengetahuan. Semakin Anda membagi kepada orang lain, semakin Anda diperkaya. Sebaliknya semakin kita kikir, semakin kita kerdil”.

“Tunjukkan dirimu sebagai karyawan terbaik”.

Wakil Ketua Puskopdit BENN Andreas Reku yang menutup acara pelatihan dan pendidikan tersebut mengatakan, fokus Puskopdit BENN dalam kurun waktu 2008-2011 adalah profesionalisme. Bahkan pelatihan tidak cukup hanya 60 hari, bisa tiga bulan.

Dia mengajak para peserta pelatihan untuk memperhatikan nilai-nilai dan karakter kepribadian, sebab apa gunanya memiliki pengetahuan dan wawasan luas, namun watak dan tutur kata kurang bagus.

“Seseorang boleh punya titel muka belakang, tapi tidak ada gunanya kalau tidak ditunjang oleh karakter kepribadian yang baik. Orang boleh sederhana, tapi kalau dia punya karakter bagus, akan jauh lebih baik”.

Dia mengajak peserta untuk aktif ambil bagian dalam mengatasi kesulitan yang dialami para anggota. “Anda akan bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang berbeda dan menemukan beragam kesulitan. Anda harus ambil bagian dalam memecahkan kesulitan mereka”.

Senada dengan Mikhael, dia mengajak para peserta membagikan pengetahuan kepada orang lain. Tidak baik bagi koperasi, katanya, jika hanya orang tertentu saja yang bisa mengerjakan pekerjaan tertentu. “Mau kerja ini, tunggu orang ini. Yang lain tidak bisa. Ini tidak bagus untuk kaderisasi”.

Dia berharap karyawan koperasi untuk berusaha mengembangkan dirinya, berprestasi, dan menggunakan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.

Dua orang peserta Hans dan Merlyn memberikan kesan dan pesan dalam acara penutupan. Keduanya merasa senang mengikuti pelatihan dan berjanji akan mempraktikkannya di lapangan demi pengembangan koperasi.*

frans obon

Flores Pos | Berita | Ekonomi

| 31 Juli 2010 | p 7