Oleh Frans Obon

karikatur bunuh diri dari gudang humor.com

TIDAK ada kata yang lebih tepat selain kata prihatin dan barangkali juga cemas ketika membaca berita tentang seorang gadis belia di Ruteng, Manggarai, melakukan aksi bunuh diri, sambil meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya (Flores Pos edisi, Sabtu 28 Agustus 2010).

Masih menurut media ini, di Kota Ruteng, dalam tahun ini saja sudah ada tiga kasus bunuh diri. Dua di antaranya menimpa anak-anak kita. Masih ada kasus serupa pada beberapa tahun sebelumnya.

Kita tentu tidak bicara angka. Artinya berapa banyak orang melakukan aksi bunuh diri. Tetapi kita prihatin dan cemas mengapa anak-anak kita yang masih labil itu mengakhiri hidup mereka dengan cara yang tragis.

Seandainya mereka menghadapi problem hidup yang pelik, mengapa mereka mengambil jalan bunuh diri dan tidak menemukan jalan lain dan orang yang tepat untuk membantu menemukan cahaya kecil dari sebuah gua besar masalah mereka.

Agama apapun menolak tindakan bunuh diri dengan alasan apapun juga. Tindakan ini bertentangan dengan keyakinan bahwa hanya Tuhanlah yang berhak memberi dan mencabut kembali kehidupan dari manusia.

Pelaku bunuh diri tahu akan hal ini. Tapi keruwetan yang dialami barangkali jauh melampaui kemampuan dan daya pikul psikologis mereka terhadap masalah yang dihadapi.

Aksi bunuh diri yang menimpa anak-anak kita merefleksikan perlunya perbaikan komunikasi antara orang tua dan anak. Apa yang baik dalam pandangan orang tua belum tentu dipahami sepenuhnya sebagai sesuatu yang baik oleh anak. Karena itu perlulah orang tua terus menerus belajar menemukan cara terbaik berkomunikasi dengan anak.

“Keruwetan yang dialami barangkali jauh melampaui kemampuan dan daya pikul psikologis mereka terhadap masalah yang dihadapi”

Kecenderungan kita orang tua adalah memaksakan apa yang baik menurut kita tapi kita mengabaikan apa yang ada dalam pikiran anak-anak kita. Kita hidup dan besar di zaman lain dan anak-anak kita hidup di masa lain dengan segala perkembangannya. Gap inilah yang membuat kita salah menemukan cara berkomunikasi yang baik dengan anak.

Kejadian-kejadian bunuh diri ini juga merefleksikan kehidupan kita sebagai komunitas. Kita alami kelangkaan tempat dan orang di mana anak-anak kita yang masih labil itu berbagi cerita ketika mereka menghadapi problem pelik kehidupan. Sebagai komunitas tidaklah cukup kita menyandarkan diri kita pada keyakinan agama bahwa bunuh diri itu dosa, misalnya.

Namun kita butuhkan usaha konkret dengan menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan psikologi dan komunikasi modern. Makin mendesak rasanya kita membutuhkan orang-orang yang bisa membantu anak-anak kita keluar dari masalah mereka dan membimbing mereka untuk menemukan harapan dalam kehidupan.

Kita tidak berhenti pada rasa prihatin tapi sebagai komunitas, kita punya tanggung jawab bersama untuk membantu dan membimbing anak-anak kita pada jalan yang benar.