ENDE — Komunitas Suster Ursulin Ende menganugerahkan cincin kesetiaan dalam 25 tahun berkarya kepada tiga orang guru di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Santa Ursula dan SMPK Santa Ursula Ende dan kepada seorang karyawan. Penganugerahan cincin kesetiaan ini dilangsungkan dalam sebuah perayaan ekaristi di Kapela Biara Suster Ursulin di Jln Wirajaya, Kamis (27/1).

Perayaan ekaristi dipimpin Vikaris jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Ende Romo Cyrilus Lena Pr dan didampingi Pater John Dami Mukese SVD. Perayaan ekaristi dimeriahkan koor guru-guru dan pegawai SDK Santa Ursula.

Pemimpin Biara Santa Ursula Ende Suster Caroline OSU mengenakan cincin kesetiaan dalam karya itu kepada Maria Magdalena Bhiju (SMPK Santa Ursula), Yuliana Ama dan Hendrika Ceme (SDK Santa Ursula) dan Kletus Gelu (karyawan). Sementara Ketua Yayasan Nusa Taruni Bhakti Suster Kristofora OSU memberi pengantar sebelum penyerahan cincin.

Suster Caroline OSU menyerahkan cincin kesetiaan.

Maria Magdalena Bhiju dalam sambutannya mengatakan, penganugerahan cincin kesetiaan ini merupakan momen bersyukur atas anugerah Tuhan. Karena penganugerahan cincin ini bukan karena kepandaian atau kepintaran, tapi karena ketekunan dalam berkarya dan mengaktualisasikan diri untuk berbuat sesuatu demi membahagiakan orang lain.

Magdalena Bhiju mulai bekerja di SDK Santa Ursula Ende 1985. Ketika SMPK Santa Ursula dibuka, dia pindah ke SMPK Santa Ursula.

Dia mengatakan, suka duka, pengalaman kerja pada tahun-tahun awal tentu saja berbeda dengan situasi kerja sekarang, di mana berbagai fasilitas kerja terus diperbarui. Perubahan yang terjadi juga membawa perubahan pada pola pikir. Namun momen syukur selama 25 tahun ini menunjukkan betapa besar kasih Tuhan. Sehingga dia mengatakan, “penganugerahan cincin ini merupakan kesempatan berfleksi untuk pengabdian selama 25 tahun”.

Dia dan teman-temannya bergembira atas pemberian cincin ini. “Di tempat ini kami mendapat penghargaan, di tempat lain belum tentu”.

Ketua Yayasan Taruni Bhakti Suster Kristofora dalam sambutannya mengatakan, komunitas Ursulin patut bersyukur kepada Tuhan karena “Tuhan membuat segala sesuatunya indah pada waktunya”. Suster Kristofora memuji pengabdian keempatnya karena “telah berjuang selama 25 tahun” bersama para suster untuk membangun lembaga pendidikan dan karya-karya para suster. Bahkan Suster Kristofora secara kelakar mengatakan, Kletus Gelu adalah “dosen arsiteknya” yang memberikan masukan kepadanya mengenai bagaimana membangun sarana dan prasarana di komunitas.

Dia menilai air mata, cucuran keringan, dan pengabdian selama 25 tahun dari keempatnya telah membuat karya Suster-Suster Ursulin indah pada waktunya.

Vikjen Keuskupan Agung Ende Romo Cyrilus Lena Pr dalam kotbahnya menegaskan lagi bahwa semangat Santa Angela yakni tegus dalam iman, rela berbagai, dan peka terhadap orang-orang kecil harus pula menjadi inspirasi semua orang yang bekerja di lingkungan komunitas Ursulin.

“Sumbangkan kreativitas dan bakat Anda untuk kemajuan karya Ordo Santa Ursula sebab karya-karya Anda bukan hanya sekadar untuk mendapatkan uang, tapi sebagai ladang rahmat,” katanya.*

— frans obon

Flores Pos, edisi 28 Februari 2011