kopdit bahteraENDE – Koperasi Kredit (Kopdit) Bahtera pada tahun 2011 akan lebih fokus merekrut anggota muda berusia di bawah 30 tahun untuk menjadi anggota koperasi terbesar pertama di Kabupaten Ende ini. Setelah pada tahun buku 2010, dari penambahan anggota baru 744 orang dari 1.500 orang yang ditargetkan, hanya 5 persen anggota baru dari kalangan kaum muda, selebihnya anggota berusia 50 tahun ke atas.

Ketua Kopdit Bahtera, Andreas Reku mengatakan, komposisi anggota koperasi seperti ini bukan tanpa kekhawatiran. “Saya khawatir kalau ini kita biarkan, maka suatu saat ketika anggota sudah tua-tua tidak ada, maka jumlah anggota Kopdit Bahtera akan turun drastis. Keadaan ini akan sangat mengganggu keberlanjutan Kopdit Bahtera. Karena itu, penambahan anggota baru tahun 2011 difokuskan pada kaum muda,” katanya.

Pada tahun 2011, sekitar 15 persen dari 1.500 anggota baru (225 orang) yang akan direkrut adalah kaum muda . “Target ini bisa terwujud kalau kita semua bekerja keras untuk memberikan motivasi, mengajak dan merangkul kaum muda kita, mulai dari anak dan cucu kita sendiri, untuk bergabung menjadi anggota Kopdit Bahtera,” katanya.
Dalam bidang keuangan, Andreas minta anggota Kopdit Bahtera agar selalu waspada dengan “kanker ganas” kredit macet. Sebab kredit macet akan menggerogoti sendi-sendi kehidupan koperasi, bahkan menghancurkan dan mematikannya.

Untuk meminimalkan risiko kredit macet, sejak Juli 2010 pengurus menetapkan besarnya kredit yang dikucurkan kepada anggota setara jaminan. Kebijakan ini telah sukses menurunkan sekitar 15 persen kredit macet.

Dia menekankan lagi aspek kebersamaan dan solidaritas di dalam gerakan koperasi kredit. Dalam aspek kebersamaan itu, terkandung aspek kejujuran, saling percaya, keadilan, rasa setiakawan, saling menghargai.

“Nilai-nilai hakiki dalam koperasi kredit adalah mengembangkan dan meningkatkan ekonomi secara mandiri dalam kebersamaan. Kemandirian itu tidak saja mencakup modal dan finansial, melainkan juga dalam bidang personel,” katanya.

Bupati Ende Don Bosco M Wangge menyambut gembira berbagai prakarsa dari masyarakat untuk membangun kebersamaan dalam mengentas kemiskinan melalui gerakan koperasi. Bupati gembira karena bersamaan dengan Kabupaten Ende, selain Ngada, Sikka, dan Flores Timur, yang telah dicanangkan sebagai kabupaten koperasi, ada banyak masyarakat tertarik untuk menjadi anggota koperasi. Bupati sendiri baru setahun menjadi anggota Koperasi Kembang.


Suasana dalam rapat anggota tahunan.

Namun pertumbuhan anggota koperasi tidak sebanding dengan jumlah penduduk Kabupaten Ende, yang saat ini berjumlah 267.000 jiwa. Dia mengatakan, seandainya saja 1.000 orang menjadi anggota koperasi dan menabung uang dari pendapatannya dengan menerapkan pola hidup hemat, maka akan begitu banyak orang dari tahun ke tahun bebas dari kemiskinan.

Karena itu dia menantang Kopdit Bahtera dan gerakan koperasi kredit untuk berjuang melawan kemiskinan. Menurut dia, keberhasilan koperasi juga diukur seberapa banyak anggotanya bebas dari kemiskinan.

Namun Bupati menegaskan lagi prinsip kerja koperasi yang menekankan kebersamaan dan solidaritas. Dia mengibaratkan dengan membangun rumah. Batu bata rumah dibangun dari sebutir pasir yang disatukan sehingga sebuah gedung bisa dibangun.

Bupati mendukung gerakan koperasi kredit yang mau merekrut orang-orang muda. “Biar jumlah kaum muda yang menjadi anggota koperasi masih sedikit, tapi jika sejak awal direkrut, maka lama-lama akan terus berkembang,” katanya.

Majaer Puskopdit BENN Mikhael H Jawa menegaskan lagi perlunya para pengurus koperasi kredit memperhatikan dengan serius masalah kredit macet. Dia minta anggota untuk menabung teratur, meminjam bijaksana, dan mengembalikan secara teratur.

Dia berharap, anggota koperasi kredit terus membangun kebersamaan, keswadayaan, dan solidaritas, yang merupakan tiga pilar utama dalam gerakan koperasi kredit.

Sedangkan Manajer Kopdit Bahtera, Gregorius Latu mengharapkan anggota koperasi membangun kemandirian dalam kebersamaan. “Kita mau berjuang menjadi kelompok yang mandiri, tidak bergantung pada belaskasihan orang lain. Kemandirian kelompok itu mempengaruhi kemandirian kita dalam keluarga,” katanya.*

— Frans Obon

Flores Pos | Ekonomi | Koperasi
| 1 Februari 2011 |