Elias Abat saat diwawancarai di Puskopdit Flores Mandiri, Jln Melati Ende.
Elias Abat saat diwawancarai di Puskopdit Flores Mandiri, Jln Melati Ende.

ENDE — General Manager Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Jakarta, Elias Abat tidak mengira akan mendapatkan penghargaan Bakti Koperasi dari Menteri Koperasi Indonesia dan UKM Syarief Hasan di Palangkaraya, 12 Juli 2012. Tiba-tiba dia mendapatkan telepon untuk menerima penghargaan.

Sebelumnya, masih dalam bulan Juli 2012, pria kelahiran Lante, Desa Lante, Kecamatan Reo, Manggarai ini mendapat penghargaan Dekopin Awards. Dekopin adalah Dewan Koperasi Indonesia, berbasis di Jakarta.

Elias lebih gembira dan bahagia karena pada hari yang sama, beberapa rekannya dari gerakan koperasi kredit mendapat penghargaan dari pemerintah. “Penghargaan ini adalah sebuah tanggung jawab agar mengelola koperasi kredit dengan lebih baik lagi. Satu saja yang terkena masalah, yang lain bisa kena imbas,” kata Elias di Puskopdit Flores Mandiri, Minggu (29/7).

Elias, yang tamat dari Fakultas Ekonomi Sebelas Maret 1986 itu mulai bekerja di Inkopdit tahun 1991. Kala itu Inkopdit masih bernama Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I). Tahun 1998 diganti menjadi Inkopdit. Tahun 2001, Elias menjabat General Manager Inkopdit.

Elias Abat

Saat ini koperasi kredit bertumbuh bagus. Menteri Koperasi, Syarief Hasan mengatakan bahwa kemajuan koperasi kredit luar biasa. “Fakta di lapangan memang pertumbuhan koperasi kredit bagus,” kata Elias.
Pertumbuhan yang bagus ini diawali oleh sebuah gebrakan tahun 2004. Saat itu jumlah koperasi kredit dan jumlah anggota serta kekayaannya sedikit sekali. Sementara itu di satu sisi, koperasi kredit adalah sebuah lembaga ekonomi yang perlu mengadaptasi perubahan dan perkembangan. Perubahan diawali dengan lokakarya di Malang dan Yogyakarta. Berdasarkan hasil lokakarya itu, diputuskan dibuat gerakan koperasi ideal yakni minimal satu koperasi 1.000 anggota, aset satu miliar rupiah, memiliki kantor, manajer, standar operasional dan standar manajemen. Tidak semua orang setuju. Bahkan dengan perubahan ini koperasi dinilai telah melenceng dari nilai dasar koperasi. Padahal jika dibagi, maka rata-rata satu juta rupiah per anggota. Itulah perencanaan strategis 2004-2009/2010.

“Ternyata strategi ini membawa perubahan yang luar biasa. Jumlah anggota naik. Aset bertambah besar. Jumlah pinjaman makin besar. Secara nasional aset dan anggota bertambah besar,” katanya.

Kendati telah berkembang bagus, kata pria kelahiran 11 November 1955 ini, Koperasi kredit tidak boleh melupakan tiga prinsip dasarnya yakni pendidikan, solidaritas, dan kemandirian.

“Sasaran akhir dari gerakan koperasi kredit adalah kemandirian”. Oleh karena itu koperasi yang belum berkembang baik dibimbing, bahkan dianjurkan agar melakukan amalgamasi agar lebih efisien, bisa menggunakan teknologi informasi (IT), gaji manajer lebih baik dan lebih profesional.

Koperasi kredit sebagai lembaga keuangan perlu memiliki alat monitoring yang dapat dijadikan sarana dan alat kontrol yang bisa mengingatkan akan adanya bahaya, sehingga gerakan koperasi kredit bisa tahu sebelumnya. Alat monotoring itu adalah PEARLS, singkatan dari Protection, effective finance structure, asset qualities, return on cost, liquidity, and signs of growth. “PEARLS adalah warning awal tapi tidak berarti kita kaku”.

Elias Abat dengan tropi penghargaan.
Elias Abat dengan tropi penghargaan.

Dia mencontohkan. Koperasi kredit perlu hati-hati dalam menetapkan suku bunga simpanan. Bunga simpanan tinggi tapi kalau uang tidak laku, itu akan menjadi cost yang besar. Kita mau menarik banyak dana anggota dengan bunga tinggi tapi kemampuan kita kecil sehingga uang menganggur, maka ongkos akan menjadi lebih besar. “Income kita rendah padahal kita punya kewajiban untuk membayar modal. Oleh karena itu diperlukan sikap bijak (prudens)”.

Selain itu, sistem yang sudah ada saat ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan, kerja sama pengurus dan manajer adalah faktor lain yang menentukan kemajuan koperasi kredit. Pengurus harus bisa memberi ruang pada manajer tetapi sebaliknya manajer juga tidak boleh menenggelamkan peran pengurus. “Pengurus harus bisa beri ruang bagi manajemen demi tercapainya rencana”.

Gagasan koperasi kredit ideal telah tercapai walaupun tidak seluruhnya. Dengan terpenuhinya strategi kopdit ideal itu, maka ke depan akan dikembangkan gagasan koperasi kredit yang bersahabat. Gagasan ini, kata Elias, masih perlu dibahas bersama lagi. Tapi Kopdit Bersahabat artinya besar, sehat, aman, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan dan teknologi.


Kalau selama ini koperasi kredit adalah lembaga jasa keuangan, maka ke depan gerakan koperasi kredit akan bergerak di sektor riil sehingga dapat memberikan peningkatan ekonomi anggota. Untuk itu ada rencana membentuk CU Mart, tempat di mana berbagai produk unggulan dari industri rumah tangga di satu wilayah dijual. Misalkan Maumere mengandalkan jambu mente, Bajawa andalkan kopi, Manggarai andalkan kopi dan gula merah. “Saya akan pergi ke Menado untuk melihat pengelolaan gula di sana sebagai bahan bandingan”.

Selain itu rencananya akan diberikan Awards (penghargaan) kepada koperasi kredit dengan kriteria tertentu. Semua rencana ini masih akan dibahas lagi. Namun penghargaan yang diperoleh oleh Elias dan rekan-rekannya di gerakan koperasi kredit adalah wujud pengakuan pemerintah. Bravo koperasi kredit. Selamat untuk Pak Elias.*

Flores Pos, edisi 31 Juli 2012