ENDE — Sebanyak 105 tukang ojek, terdiri dari 50 orang beragama Islam, 40 orang Katolik, dan 15 orang Kristen, menjadi agen kerukunan hidup beragama di Ende. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende memfasilitasi 105 tukang ojek di Kota Ende dalam pertemuan dua hari, 27-28 Juli 2012.

Dalam kerangka acuan kegiatan yang diterbitkan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, kehadiran jasa transportasi ojek di Kota Ende bisa memberikan kenyamanan dan kecepatan tetapi juga dapat menimbulkan masalah. Dikatakan, tukang ojek bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat beragama dari satu tempat ke tempat lain tetapi juga berpotensi menyebarkan informasi positif dan negatif. “Banyak kisah pertikaian terjadi justru dipicu oleh informasi yang dibumbui dengan nada provokatif”.

Oleh karena itu Kementerian Agama mengundang para tukang ojek menghadiri pertemuan dua hari untuk menjadikan mereka sebagai agen kerukunan: “Komunitas tukang ojek sebagai agen kerukunan” dan mendorong pembentukan wadah organisasi tukang ojek di Kabupaten Ende.

Pertemuan hari pertama, 27 Juli 2012, para tukang ojek mendapatkan presentasi mengenai pekerjaan dan jasa pelayanan ojek dari perspektif agama Katolik, Islam, dan Kristen. Pandangan masing-masing agama hampir sama bahwa pekerjaan, apapun bentuknya, mulia. Oleh karena itu pekerjaan jasa ojek termasuk pekerjaan mulia juga. Hampir semua presentasi mengajak para tukang ojek untuk mengatur pendapatan mereka dengan baik.

Pertemuan hari kedua, 28 Juli 2012, tiga orang narasumber memberikan presentasi. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Yosef Nganggo, yang membahas soal pelayanan jasa tukang ojek sebagai agen kerukunan di Kabupaten Ende. Kapolres Ende AKBP Musni Arifin membahas kedisiplinan dan keselamatan dalam berkendaraan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende dokter Agustinus G Ngasu berbicara mengenai kerja dan kesehatan. Moderator hari kedua, Frans Obon dari Harian Flores Pos. Seluruh acara hari kedua disiarkan langsung RRI Ende.

Menurut Yosef Nganggo, kerukunan harus dipelihara secara sadar dan terarah, “supaya tidak meleleh oleh kepentingan politik dan ekonomi dan tidak lapuk karena diterpa moral dan budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama”.

Yosef mengajak para tukang ojek untuk bersikap kritis terhadap pengaruh budaya dari luar dan berusaha membangun kerja sama dalam perbedaan. “Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk memelihara kerukunan. Kerukunan tercipta kalau kita terima perbedaan.”.

Peran tukang ojek, kata Yosef, adalah memotivasi pembangunan berkarakter dan budaya kerukunan, memutuskan mata rantai informasi atau isu provokatif yang merusak tatanan kehidupan, membina keharmonisan kehidupan beragama, dan menjadi contoh kerukunan.

Kapolres Ende AKBP Musni Arifin memberikan contoh-contoh menarik yang menggugah kesadaran tukang ojek untuk tertib berlalu lintas.
Meski pertemuan di siang hari pada jam-jam istrirahat siang, penjelasan Kapolres dengan contoh-contoh konkret dari kasus-kasus kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran-pelanggaran yang biasa dilakukan pengendara sepeda motor, memberikan penyegaran. Kapolres menyebut tukang ojek sebagai agen keamanan dan ketertiban berlalu lintas.

Menurut Kapolres, banyak sekali isu-isu terkait kehadiran ojek yang saat ini melebihi angkutan kota. Kasus perkelahian, kasus lakalantas, dan ojek sebagai pelaku kejahatan dan membantu melakukan kejahatan.

Dikatakan, agar tukang ojek tidak mudah dimanipulasi, maka diperlukan pengenaan seragam dan pembagian pangkalan yang jelas. Kapolres mendukung pembentukan organisasi tukang ojek, menekankan pentingnya penggunaan helm berstandar dan mendorong perilaku menaati rambu-rambu lalulintas. “Kalau ada organisasi tukang ojek, manfaatnya banyak. Ada kartu anggota, dapat pembinaan dan difasilitasi”.

Kapolres kembali mengingatkan para tukang ojek untuk mengenakan helm. Bahkan tukang ojek harus “memaksa” penumpangnya mengenakan helm. Karena kalau terjadi kecelakaan, tukang ojek bertanggung jawab. Bahkan, bila perlu harus berani tidak memuat penumpang yang tidak mau pakai helm. “Hindari juga perilaku ugal-ugalan karena nasib orang lain atau nyawa orang lain ada di tangan Anda”. “Ojek bukan preman, tapi jual jasa. Menjual jasa harus tampil dengan rapi dan performans bagus,” ajak Kapolres.

Kasatlantas Polres Ende Iptu Argya Satrya Bhawana diberi kesempatan oleh Kapolres untuk menjelaskan UU No. 22/2009 tentang Undang-Undang Lalulintas dan Jalan, rambu-rambu lalulintas, dan tertib berlalu lintas. Bahkan Kasatlantas memberi hadiah uang masing-masing Rp100.000 kepada dua tukang ojek yang bisa menjawabi dengan benar arti tanda-tanda lalulintas.

Kepala Dinas Kesehatan dokter Gusty menjelaskan bahwa sehat itu adalah investasi. Dokter Gusty memberi contoh dengan menghitung biaya yang mesti dikeluarkan bila seseorang sakit. Menurut dia, kesehatan diperlukan karena tidak akan membahayakan diri dan orang lain dan dapat menciptakan produktivitas kerja. Dikatakan, risiko kerja adalah peringkat ke-10 penyebab penyakit dan kematian. Risiko kerja itu dapat menimbulkan sakit punggung (37%), penyakit paru kronis (13%), asma (11%), kecelakaan (40%), kanker paru (9%), dan leukemia (25%).

Kegiatan dua hari ini ditutup dengan buka puasa bersama dengan ceramah puasa dibawakan H Moh. Syamsul Ma’arif, Kepala Bidang Agama Islam pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).*

frans obon
Flores Pos, edisi 30 Juli 2012