Oleh FRANS OBON

ENDE — Dalam rangka pesta Pancawindu atau 40 tahun berdirinya Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende, tema lama membangun Flores dan Lembata sebagai sebuah kawasan terpadu dimunculkan kembali.

Tema membangun secara terpadu dan terintegrasi Flores dan Lembata sudah lama diwacanakan, tetapi belum terimplementasikan sama sekali dalam praksis perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di Flores dan Lembata.

Tampaknya STPM Santa Ursula Ende melihat tema ini masih relevan dibahas kembali pada momen pesta Pancawindu lembaga yang memberi perhatian khusus pada pemberdayaan masyarakat. STPM Santa Ursula Ende telah menghasilkan banyak tamatan yang telah bekerja di berbagai bidang karya di Flores dan Lembata.

(Kiri ke kanan) Elias Cima, P Philipus Tule SVD, Rony So, dan P John Dami Mukese, SVD

Seminar mengambil tema: “Membangun Flores sebagai Sebuah Entitas Sosial Politik”. Tiga pembicara utama Pater Dr Philipus Tule SVD, Pater Dr John Dami Mukese SVD dan Rony So dan moderator Elias Cima, dosen STPM Santa Ursula Ende. Pater Philipus, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, berbicara mengenai “Peran Strategis Pendidikan Tinggi dalam Agenda Pembangunan Masyarakat Flores”, Pater Dami bicara mengenai “Konsep dan Strategi Membangun Floresta sebagai Kawasan” dan Rony So, alumnus STPM Ende bicara tentang “Dinamika dan Tantangan dalam Pemberdayaan Masyarakat”. Seminar dihadiri ratusan mahasiswa STPM, alumni dan undangan lainnya. Kegiatan berlangsung di aula STPM, Kamis (2/8/2012).

Pembangunan, menurut Pater Dami, adalah sebuah proses yang tidak terjadi secara spontan atau improvisasi, melainkan suatu proses terencana sehingga perubahan yang hendak dicapai juga merupakan perubahan terencana. Oleh karena itu pembangunan kawasan, katanya, adalah sebuah perubahan sosial yang dilakukan secara terencana dalam satu kawasan atau wilayah geografis tertentu yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan sektor unggulan yang terdapat di dalam kawasan tersebut.

Para peserta seminar 40 tahun STPM Santa Ursula Ende. Photo @frans obon

Dalam konteks ini, pembangunan kawasan tersebut perlu dilakukan secara terpadu, sehingga disebut “pembangunan kawasan terpadu” (integrated area development). “Pendekatan ini hanya akan berhasil membawa perubahan sosial dan ekonomi secara signifikan apabila tersedia berbagai infrastruktur dan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi secara terpadu yang didukung oleh berbagai pelayana sosial,” katanya.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, kata Pemimpin Umum Flores Pos berbasis di Ende ini, pernah ditetapkan 13 Kapet sebagai bagian dari kebijakan pemerintah Orde Baru yang memberikan perhatian pada Indonesia Bagian Timur. Pada tahun 1993 pemerintahan Presiden Soeharto membentuk 13 Kapet dan 12 di antaranya ada di Indonesia Bagian Timur dan satu kapet ada di Kawasan Barat Indonesia. Di antara 12 Kapet itu adalah Kapet Mbay di Flores.

Kebijakan pemerintah pusat membentuk Kapet ini dituangkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 89/1996 yang kemudian disempurnakan dengan Keppres No. 9/1998 tentang Pembentukan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet).

“Inti dari pembentukan Kapet adalah mendorong terbentuknya suatu kawasan yang bisa berperan sebagai penggerak utama (prime mover) dalam pengembangan Kapet tersebut,” katanya.

Peserta seminar

Menurut Pater Dami, munculnya konsep pembangunan kawasan didasarkan pada ketidakberhasilan pendekatan sektoral dan kedaerahan yang bersifat eksklusif. Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan “pembangunan yang dilakukan secara serempak, inklusif dan terpadu di beberapa wilayah karena akan dapat membawa perubahan sosial dibandingkan pendekatan pembangunan sektoral, spasial dan eksklusif”.

Leading sector dalam membangun Flores dan Lembata sebagai sebuah kawasan terpadu, menurut Pater Dami, adalah sektor pariwisata. Bidang ini akan dapat menjadi sektor yang bisa dikembangkan secara terpadu dan terintegrasi di Flores dan Lembata. Sebab hampir semua daerah di Flores dan Lembata memiliki objek-objek wisata yang layak dikembangkan.

“Tugas kita adalah bagaimana agar para wisatawan makin lama tinggal di Flores dan Lembata dan dengan itu makin banyak pula uang yang bisa mereka belanjakan di daerah kita,” kata Pater Dami dalam sesi diskusi.

Ar Dalo, Ketua Penyunting Buku Kenangan dan Bunga Rampai ketika memberikan pengantar peluncuran Buku Kenangan 40 Tahun STPM Santa Ursula Ende.

Di tengah kekhawatiran dampak buruk pengembangan pariwisata di Flores dan Lembata, baik dari segi benefit untuk masyarakat lokal maupun dampaknya terhadap budaya, Pater Dami kembali meyakinkan bahwa pariwisata terutama wisata religius akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Flores dan Lembata “Meski dengan catatan bahwa masyarakat lokal harus menjadi pemain utama dalam pengembangan pariwisata tersebut”.

Mutu Pendidikan
Pater Philipus Tule menekankan mutu pendidikan lembaga pendidikan tinggi “agar bisa go global”. Berangkat dari pengalaman cendekiawan pada masa Orde Baru, Pater Philipus berharap lembaga pendidikan tinggi tidak terperangkap dalam kekuasaan, melainkan menjadikan pengetahuan mereka sebagai kekuatan yang bisa mentransformasikan masyarakat.

“Pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM dan peneliti, lembaga pendidikan formal dan non formal serta orangtua hendaknya berpikir serius tentang solusi terbaik dan efektif untuk menghasilkan output SDM yang lebih bermutu, lebih khusus lagi dalam konteks lokal NTT dan Flores sebagai sebuah entitas sosial dan politik,” katanya.

Yulita Eme, Ketua STPM Santa Ursula Ende

Masyarakat Flores sebagai sebuah entitas sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama masih terbilang marjinal, katanya, oleh sebah itu “dibutuhkan kaum cendekiawan yang secara pribadi dan lembaga berperan lebih strategis dalam memecahkan masalah tersebut”. Cendekiawan yang hirau secara politis, ujarnya, terlibat secara sosial, paham dan peka secara budaya, akan terjalin secara global dan mengakar secara spiritual.

Sementara Rony So berbicara mengenai pengalamannya dalam melakukan proses pemberdayaan masyarakat. Dari pengalamannya bertahun-tahun, melakukan proses perubahan sosial tidaklah mudah, tetapi memerlukan pendekatan yang tepat dan kesabaran untuk melakukan pendampingan dengan memperkecil intervensi dari luar.

Menurut dia, proses kerja pemberdayaan yang mereka lakukan bisa dirusakkan oleh intervensi dari luar. Dia menceritakan banyak contoh bagaimana proses pemberdayaan yang telah mereka lakukan bisa dihancurkan oleh pola-pola proyek dari proses pembangunan negara.
“Di ruang seminar kita mudah bicara soal saling sinergis dan terkoordinasi. Dalam praktiknya sulit sekali,” kata Rony.

Buku Kenangan
Pada akhir seminar, tim penulisan buku meluncurkan sebuah buku kenangan. Ketua STPM Santa Ursula Ende Yulita Eme menyerahkan buku kenangan. Masih ada satu lagi buku yang akan diterbitkan dalam kaitan dengan perayaan 40 tahun STPM Santa Ursula.

 

Flores Pos, edisi 3 Agustus 2012