Uskup Vincent Sensi Potokota

ENDE– Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende, Sabtu 4 Agustus 2012, genap berusia 40 tahun. Lembaga tinggi dengan fokus pemberdayaan masyarakat ini dalam perjalanan sejarahnya mengalami metamorfosis.

Awalnya sebuah lembaga kursus bernama PTPM tahun 1972, lalu berubah menjadi Akademi Pembangunan Masyarakat (APM), Akademi Administrasi Pembangunan (AAP) dan pada akhirnya menjadi STPM Santa Ursula. Malah masih ada mimpi ke depan agar lembaga pendidikan tinggi milik Suster-Suster Ursulin Indonesia ini berkembang menjadi sebuah institut dan pada suatu saat menjadi sebuah universitas.

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota dan didampingi puluhan imam konselebrantes, memimpin ekaristi syukur, Sabtu (4/8/2012) di kompleks Biara Ursulin di Jln Wirajaya. Koor Merici Voice menambah hikmah perayaan Pancawindu tersebut. Tema perayaan “Dalam Dia, Kamu Menjadi Kaya”.

Uskup Sensi dalam kotbahnya menegaskan bahwa STPM Santa Ursula Ende tidak boleh hanya menghasilkan tamatan yang kaya secara intelektual, terampil bekerja dan menguasai ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki kekayaan rohaniah yang bersumber di dalam pengalaman personal akan Allah.

Pada masa sekarang ini, kata Uskup Agung ini, kekayaan selalu dikaitkan dengan kekayaan material seperti berapa banyak uang di bank, berapa hektare tanah, rumah, mobil dan lain-lain. “Pokoknya doi (uang) telah menjadi dewa, allah”. Namun Uskup Agung ini menegaskan bahwa kekayaan rohani adalah kekayaan yang kekal dan abadi.

Perjalanan selama 40 tahun, kata Uskup Sensi, adalah sebuah kesaksian historis yang menujukkan kesetiaan lembaga pendidikan tinggi ini pada perutusannya. “Setia dan kokoh pada spiritualitas kekatolikan. Setia bergerak dalam usaha pemberdayaan masyarakat Flores. Kehadirannya dirasakan oleh masyarakat akar rumput”.
Selain itu Uskup minta lembaga pendidikan ini setia pada mimpi awalnya untuk memberdayakan masyarakat terutama memberi prioritas pada masyarakat akar rumput dan terus menerus mengembangkan dinamika intelektual yang sehat di kampus.

Aloysius Belawa Kelen, Ketua Panitia Perayaan 40 tahun, dalam sambutannya mengatakan, tema perayaan Pancawindu adalah “Abdi Masyarakat, Tebarkan Jalamu” telah mendorong seluruh civitas akademika STPM Santa Ursula Ende menyadari kembali komitmen dan tanggung jawabnya membangun jaringan kerja bersama elemen masyarakat lainnya untuk memilih model dialog dalam proses pemberdayaan masyarakat. “Model pemberdayaan yang kreatif, inovatif dan kreatif. Orang yang mengubah kata-katanya dalam tindakan, itu berarti Anda telah mengubah hidup orang lain,” begitu dia menutup sambutannya.

Ketua STPM Santa Ursula Ende, Yulita Eme, dalam sambutannya mengatakan, perayaan 40 tahun adalah momen untuk bersyukur dan merefleksikan kembali pencapaian lembaga pendidikan tinggi ini.

Yulita Eme
“Momen Pancawindu ini dapat menjadi saat untuk merefleksikan sejauh mana misi lembaga ini memberdayakan manusia-manusia pembangunan yang bermutu secara intelektual, moril, spiritual, sosial dan kinestik tercapai. Ke depan lembaga ini akan semakin mampu menjadikan dirinya lembaga yang bisa menciptakan pribadi-pribadi yang andal bagi pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Namun Yulita menilai, perayaan 40 tahun ini adalah sebuah titik pijak baru untuk melangkah lebih maju meraih harapan dan cita-cita bersama. “Sejak PTPM hingga menjadi STPM Santa Ursula, lembaga ini terus bergerak maju menjawabi panggilan dan tantangan sebagai sebuah lembaga tinggi yang berguna bagi Gereja dan bangsa.

Bupati Don Bosco M Wangge
Bupati Ende Don Bosco M Wangge dalam sambutannya mendorong para mahasiswa untuk terus meningkatkan kemampuan intelektual dengan terus menerus membaca. Sekolah di STPM, katanya, tidak boleh sekadar untuk mendapatkan ijazah dan gelar, tetapi harus dibarengi oleh mutu intelektual. “Hanya dengan membaca kita bisa tingkatkan kualitas dan mutu pribadi kita,” katanya.

Bupati Don Wangge, sejak 2005 memberi kuliah di lembaga ini, berterima kasih karena STPM ikut meningkatkan mutu sumber daya manusia aparatur pemerintah di Kabupaten Ende. Sebab dengan itu biaya untuk meningkatkan sumber daya manusia aparatur menjadi relatif kecil jika dibandingkan kalau mereka kuliah di tempat jauh. Pada kesempatan ini Bupati menyumbangkan buku yang secara simbolis diterima Ketua STPM Ende, Yulita Eme.

Suster Kristofora OSU
Ketua Yayasan Taruni Bakti, Suster Kristofora OSU mengatakan, Ursulin Indonesia memiliki komitmen untuk mengembangkan STPM Santa Ursula, “sebab ini adalah satu-satunya lembaga pendidikan tinggi milik Suster-Suster Ursulin Indonesia.” Dia mengajak semua pihak untuk bersatu hati dan bergandengan tangan mengembangkan lembaga ini. Ursulin Indonesia punya mimpi, kata Suster Kristofora, suatu saat sekolah ini diperjuangkan menjadi sebuah institut dan pada puncak berikutnya menjadi sebuah universitas.

Perayaan 40 tahun STPM Santa Ursula diisi dengan acara pantomim yang dibawakan para mahasiswa STPM dan lagu-lagu oleh para siswa SMPK Santa Ursula. Perayaan ekaristi dimeriahkan dengan tarian.
STPM Santa Ursula Ende, sejak 40 tahun lalu, setia dengan misi awalnya untuk memberdayakan masyarakat Flores dan Lembata. Seperti kata Uskup Sensi dalam sambutannya, apapun bentuknya, “lembaga ini harus tetap memprioritaskan masyarakat yang terpinggirkan”. Profisiat STPM Santa Ursula Ende. Ad multos Annos.

frans obon
Flores Pos, edisi 6 Agustus 2012