Mgr Vincent Sensi Potokota

ENDE — Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota mengingatkan kembali para pemimpin di berbagai level dalam masyarakat di Flores dan Lembata untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan sebagai prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai luhur serta cita-cita asali dari kehidupan manusia.

Uskup Sensi memimpin perayaan ekaristi peringatan 85 Tahun Gereja Katedral Ende, Minggu (20/11/2011) di Gereja Chrsito Regi Katedral Ende. Hadir dalam perayaan ini puluhan imam, Provinsial SVD Ende Pater Dr Leo Kleden SVD dan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Ende Romo Cyrilus Lena Pr, Bupati Ende Don Bosco M Wangge dan Sekretaris Daerah Yosef Ansar Rera.

Sebelumnya paroki-paroki di Kota Ende melakukan perarakan sakramen mahakudus dan pentahtaannya di Gereja Katedral Ende.
Persaudaraan sejati dari semua makhluk ciptaan sebagai tujuan asali dari ciptaan, kata Uskup Agung ini, merupakan sebuah perjuangan panjang tanpa henti oleh karena kedosaan manusia.

Visi kepemimpinan kristiani, menurut Uskup, dilandaskan pada hukum cinta kasih dengan mengutamakan persaudaran sejati lintas batas, yang merangkum semua orang ke dalam persaudaraan sejati tersebut.
Seorang pemimpin, kata Uskup, tidak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri dan golongan tapi menggunakan kekuasaan itu untuk mengabdi kepentingan umum dan perwujudan persaudaraan sejati.

Dengan inspirasi pada bacaan Injil, tugas dan tanggung jawab pemimpin adalah membimbing dan menuntun masyarakat menuju persaudaran sejati tersebut. Kekuasaan dalam konteks Injil adalah terutama fungsi kegembalaan para pemimpin. Dengan ini uskup mengingatkan lagi bahwa hakikat pemimpin adalah melayani masyarakat.

Tanggung jawab bagi perwujudan persaudaraan sejati ini bukan saja tugas para pemimpin semata-mata tetapi tiaporang bertanggung jawab untuk mewujudkan persaudaraan sejati ini.

Uskup Agung ini terutama juga mengajak umat Katolik untuk mengalami Allah secara personal di depan Sakramen Mahakudus. Kebersamaan dalam ekaristi dan perayaan-perayaan komunitas tetaplah penting, tapi mengalami Allah secara personal di depan Sakramen Mahakudus merupakan momen untuk membarui diri dan komitmen untuk mewujudkan persaudaraan sejati itu.

Inilah alasan utama dibangunnya sebuah ruang doa khusus tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan agar umat mengalami Allah secara personal. Uskup mengajak umat untuk menggunakan sarana yang disediakan oleh Gereja untuk lebih mengalami Allah secara personal.

Pentahtaan Sakramen Mahakudus di Paroki Katedral ini adalah puncak dari prosesi Sakramen Mahakudus di paroki-paroki di Kota Ende.

frans obon

Flores Pos edisi 21 Novemver 2011