Adrianus Daduk, Yustinus Sani, dan Mansuetus Gare

ENDE — Mahasiswa Manggarai yang sedang mengikuti pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Kota Ende menggelar seminar mengenai peran mahasiswa dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Ende, Sabtu (5/5/2012).

Rencananya seminar menghadirkan Ketua DPRD Ende Marselinus YW Petu, tetapi karena Ketua DPRD Ende sedang melakukan kunjungan kerja ke wilayah utara Kabupaten Ende, maka anggota DPRD Ende dari Komisi B Yustinus Sani didaulat sebagai pembicara. Pembicara lainnya adalah Mansuetus Gare, dosen Fakultas Teknik Universitas Flores.

Ketika itu saya diminta oleh para mahasiswa Manggarai di Ende untuk memberikan sambutan, sekaligus membuka kegiatan seminar.

Mahasiswa Manggarai di Ende.

Yustinus Sani berbicara mengenai peran pengawasan yang dilakukan DPRD terhadap keseluruhan proses pembangunan di Kabupaten Ende. “Apa yang perlu diawasi,” begitu dia memulai pembicaraannya. Menurut dia, DPRD bertugas mengawasi pelaksanaan visi, misi, dan program bupati dan wakil bupati. Karena yang memiliki visi dan misi adalah bupati dan wakil bupati. Visi-misi bupati ini tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). “DPRD melakukan pengawasan, mengkritisi, dan memperbaiki hal-hal yang belum dilaksanakan seturut visi-misi pemerintah,” katanya.

Sementara anggota DPRD tidak mempunyai visi-misi pribadi. Visi-misi anggota DPRD adalah visi-misi partai politik. Karena itu yang diperjuangkan DPRD dalam keseluruhan proses politik pembangunan adalah visi-misi partai politik. “Tidak ada visi-misi pribadi anggota DPRD. Anggota DPRD adalah perpanjangan tangan partai,” katanya.

Mahasiswa Manggarai di Ende

Hal kedua yang menjadi perhatian anggota Dewan dalam melakukan pengawasan adalah kesejahteraan rakyat. Tolok ukur untuk menilai apakah rakyat sejahtera atau tidak adalah apakah ada perbaikan dan perubahan dalam kehidupan rakyat. Kalau pemerintah mengatakan, fokus perhatian pemerintah adalah pendidikan, kita periksa apakah anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan itu lebih banyak atau tidak. Dia mencontohkan, kalau sebelumnya 100 gedung sekolah rusak, berapa yang sudah diperbaiki. Kalau sebelumnya sekolah hanya sekian, apakah ada penambahan. Kalau sebelumnya jumlah orang yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sekian, berapa penambahannya.

Sebagai bagian dari hak anggarannya, DPRD ikut menentukan alokasi dana bagi dinas-dinas. Karena anggaran berbasis kinerja, maka DPRD melihat apakah dinas-dinas tertentu sudah dengan tepat dan bertanggung jawab menggunakan dana-dana yang dialokasikan dalam anggaran atau tidak.

“DPRD melakukan uji petik terhadap laporan akhir tahun bupati. Uji petik itu untuk melihat efektivitas penggunaan dana. Apakah sudah sesuai dengan aturan atau tidak. Kalau tidak, DPRD bisa mempertimbangkan kembali alokasi dana untuk dinas bersangkutan, sebab pengalokasian anggaran berbasis kinerja” katanya.

Mansuetus Gare, dosen Fakultas Teknik Universitas Flores, berbicara mengenai kepemimpinan suportif. Dia menekankan perlunya masyarakat diberi ruang untuk ambil bagian di dalam proses pembangunan.

Seminar yang dihadiri sekitar 500-an mahasiswa Manggarai ini digelar Forum Peduli Manggarai Raya, forum yang dibentuk ikatan-ikatan mahasiswa Manggarai di Ende, 11 April 2012.

Koordinator Umum Forum Peduli Manggarai Raya, Adrianus Daduk dalam sambutannya menekankan nilai-nilai kebersamaan di dalam gerakan mahasiswa Manggarai. Forum Peduli Manggarai Raya ingin terus menghidupkan budaya kebersamaan di kalangan mahasiswa Manggarai dengan berlandaskan pada filosofi lonto leok, bantang cama dalam bahasa Manggarai, yang berarti duduk bersama untuk mencapai musyawarah mufakat)

Sesi diskusi yang dipandu Adrianus Daduk ini berlangsung hangat. Para mahasiswa bertanya soal korupsi, tambang, pelayanan publik, dan pengawasan pembangunan yang dilakukan Dewan.

frans obon

Flores Pos edisi 7 Mei 2012.

Lihat juga kolom saya di Flores Inside