Agus Beu Mude

ENDE — Di rumahnya yang bersih dengan sederetan sofa yang terbilang masih baru, Agustinus Beu Mude bicara dengan penuh semangat tentang masa-masa awal yang sulit dalam gerakan koperasi kredit di Flores. Pada usianya yang ke-74 tahun Agus masih ingat detil dari setiap perjuangan awal ketika bersama Moses Mogo dan beberapa guru di SMAK Syuradikara keluar masuk kampung memperkenalkan koperasi kredit sebagai wadah baru masyarakat Flores untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya.

Tanpa honor, tanpa uang jalan, tanpa bekal, Agus bersama rekan-rekannya pernah memperkenalkan gerakan koperasi kredit hingga di Kumba dan di Pagal, Kabupaten Manggarai, Flores barat. Pada awal tahun 1980-an transportasi di seluruh Flores begitu sulit. Jembatan kayu. Jalan berlubang. Hujan. Berlumpur. Becek. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangat untuk memperkenalkan gerakan koperasi kredit.

Tahun 1960, Agus mulai berkarya sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Katolik Syuradikara Ende setelah tamat dari Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) Santo Bernadus di Madiun. Pada saat itulah dia mulai mengenal aktivis-aktivis sosial dari Delegatus Sosial (Delsos) Keuskupan Agung Ende yang dipimpin Pater Bernard J Baack SVD seperti Moses Mogo dan Guido Lakapung. Pater BJ Baack pernah menjadi Direktur SMAK Syuradikara dan tinggal di lembaga pendidikan yang sangat terkenal di Flores milik Kongregasi Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD). Tidak lama setelah itu Agus melanjutkan pendidikan tingkat sarjana muda di IKIP Madiun dan tahun 1964 Agus kembali ke Ende dan kembali mengabdi di SMAK Syuradikara, sambil mengajar di beberapa sekolah menengah atas di Kota Ende.

Agus Beu Mude dan Moses J Mogo

Agus bersama guru-guru bujang tinggal di Wisma Jayakarta. Di wisma ini para aktivis sosial dari Delsos dan guru-guru sering bertemu dan membahas cara-cara baru untuk membangun masyarakat Flores. Tiga tahun setelah kembali dari pendidikan IKIP Madiun, 10 Juli 1967 Agus menikah dengan Florentina de Ornay. Meski sudah menikah, pria kelahiran Wolowea, Kabupaten Nagekeo, 1 Februari 1937 ini masih aktif di berbagai organisasi sosial. Dia aktif di organisasi Pemuda Katolik dan Partai Katolik. Kemudian Agus aktif di Partai Golkar.

Pada tahun 1960-an, gerakan koperasi kredit mulai diperkenalkan di Indonesia. Gerakan baru ini mau disebarluaskan ke daerah-daerah. Awalnya ada rencana gerakan koperasi kredit ini mau diperkenalkan lewat jalur pemerintah, tapi urung dilakukan. CUCO Jakarta memperkenalkan gerakan koperasi kredit ini melalui Delegatus Sosial yang disingkat menjadi Delsos yang pada tahun 1988 diubah namanya menjadi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi karena Delsos dianggap kunci. Waktu itu Delsos menyambut baik. Aktivis-aktivis sosial di Delsos kemudian berperan untuk memperkenalkan gerakan baru ini.

Gubernur Frans Lebu Raya (kiri) dan Joseph Dopo (kanan) pada saat peresmian Gedung Puskopdit 27 Mei 2011.

Pada tahun 1972, credit union Jayakarta didirikan oleh sekelompok guru-guru yang tinggal di Wisma Jayakarta dan melibatkan masyarakat di Kota Ende. CU Jayakarta masih berdiri kokoh sampai saat ini meski bukan menjadi koperasi kredit terbesar saat ini di Flores. Guido Lakapung yang bekerja di Delsos Keuskupan Agung Ende, Silvester Sausuka, dan Basilius Bengo Teku. Agus aktif di dalam gerakan koperasi kredit sejak awal.

Pada tahun 1974 CU Jayakarta bekerja sama dengan Delsos Keuskupan Agung Ende yang dipimpin Pater Ir B J Baack SVD menyelenggarakan kursus dasar Credit Union dengan peserta datang dari seluruh Flores. Kursus ini diberikan oleh Pater Karim Albertch SJ, FX Susanto dan Robby Tulus. Agus Beu Mude duduk di panitia kursus, yang digelar di PTPM atau Sekolah Tinggi Pembangunan Santa Ursula Ende saat ini. “Kita bunuh satu ekor kerbau”.

Gagasan credit union terus disebarluaskan dan perlahan-lahan diterima masyarakat. Kelompok Studi Tabungan (KST) dan credit union mulai bertumbuh dan berkembang. Maka diperlukan satu badan koordinasi. Karena itu dibentuklah Badan Pembina dan Pengembangan Credit Union (BPP CU) wilayah NTT Barat. Agus Beu Mude bersama Frans S Fernandez dan Guido Lakapung duduk di badan tersebut. Frans S Fernandez bekerja di Panitia Sosial, sebuah komisi dari Delsos.

Agus Beu Mude (tengah)

Ketika duduk di badan koordinasi ini, semangat dan komitmen Agus makin kuat untuk memajukan koperasi kredit. Agus dan kawan-kawannya harus pergi bertemu kelompok-kelompok masyarakat untuk memperkenalkan, mensosialisasikan, memantapkan dan menyiangi benih-benih koperasi kredit yang sedang bertumbuh. Transportasi dan komunikasi menjadi kendala utama pada masa-masa awal. Apalagi tenaga full timer tidak ada. Namun karena semangat dan senang berorganisasi, Agus bersama kawan-kawannya pergi hari Sabtu dan kembali Minggu sore karena hari Senin Agus harus berada di depan kelas di SMAK Syuradikara.

“Kami tidak boleh terlambat atau batal bila sudah ada janji dengan kelompok masyarakat. Sebab jika kita tidak datang, tapi orang sudah tunggu, kepercayaan bisa hilang”. Karena itu Agus dan kawan-kawan selalu berusaha untuk datang.

Ada juga untungnya jadi guru. Bila ke kampung-kampung untuk menghadiri pertemuan di gereja, kelompok-kelompok masyarakat dan di sekolah-sekolah, Agus selalu bertemu dengan bekas muridnya. Dengan hospitalitas yang tinggi, Agus dan kawan-kawan diterima oleh bekas muridnya. “Uang jalan tidak ada. Kami pakai uang sendiri”.

Pernah sekali waktu Agus dan kawan-kawannya ke Watunggere, lalu ke Maurole, Kabupaten Ende. Naik gunung Deghomuso. Untuk menginap malam hari, Agus terpaksa mencari keluarga, kawan, atau bekas muridnya sebelum keesokannya kembali ke Ende.

“Saya punya jiwa senang memberi sesuatu kepada orang lain. Senang membahagiakan orang lain dan senang berorganisasi”. Beruntung Agus tidak mendapat protes dari sang istri, sebab istrinya juga mengerti dan memahami jiwa dan semangatnya.

Hasil keringat dan kerja keras ini banyak kelompok studi tabungan (KST) dibentuk. Tapi ada juga yang rontok. Ada banyak pula yang bertumbuh dan berkembang baik. Dalam memberi motivasi, Agus selalu mengingatkan bahwa uang adalah sarana bukan tujuan. Yang menjadi fokus dalam gerakan koperasi kredit adalah anggota. Kebahagiaan dalam kebersamaan itu yang menjadi tujuan, sedangkan uang hanyalah sarana. Karena itu awalnya Agus minta kelompok masyarakat membentuk KST. Bila sudah kuat baru didirikan CU. “Jadi, kami datang bukan untuk membentuk koperasi kredit, tetapi kami memberikan motivasi”.

Dari pengalaman keterlibatannya dalam gerakan koperasi, Agus menilai pendidikan adalah medium penting dan utama agar koperasi bisa berkembang. “Manusianya harus dididik dan dibentuk. Ini sarana penting untuk mengembangkan koperasi”. Namun sumber daya manusia yang dihasilkan harus orang yang jujur, terbuka, dan berani.

Agus mengatakan, perkembangan pesat saat ini dengan kantor baru yang megah merupakan hasil dari pendidikan dan studi banding baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Agus menilai peranan guru-guru dalam gerakan koperasi di Flores sangat kuat. Koperasi-koperasi kredit yang bertumbuh dan berkembang bagus saat ini adalah koperasi kredit yang bertumbuh dan berkembang di lembaga-lembaga pendidikan. “Orang mau masuk koperasi kredit akan bertanya siapa yang ada di sana”.

Agus bangga dan bahagia menyaksikan kemajuan gerakan koperasi kredit saat ini. Anggota makin bertambah. Aset meningkat. Ini artinya koperasi kredit dilihat sebagai wadah baru untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk menghargai pengabdian dan komitmennya dalam gerakan koperasi kredit, Puskopdit Flores Mandiri sebagai lembaga intermediate dalam gerakan koperasi kredit pada tahun 2008 menganugerahi Agus cincin emas pada RAT di Kopdit Kenisah Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.

Sampai saat ini Agus masih dipercayakan menjadi penasihat di Puskopdit. Dia sudah merasakan pahit manisnya dari gerakan ini. Apa artinya menjadi pelopor dan motivator. Tidak mudah. Harus ada pengorbanan. Tanpa uang transpor dan uang saku. Semangat dan komitmen untuk berkorban bagi orang lain selalu menyala dalam dirinya. Sampai sekarang.

Oleh FRANS OBON

Naskah ini dimuat dalam buku Koperasi Kredit, Membangun Peradaban Bertabat, Kenangan 40 Tahun Gerakan Koperasi Kredit di Flores, Ende: Puskopdit Flores Mandiri, hlm 62-67.