pangan lokal

Oleh FRANS OBON — Keuskupan Maumere dan pemerintah Kabupaten Sikka mencanangkan bahwa salah satu hari dalam seminggu, masyarakat (umat) diminta tidak makan nasi. Pimpinan Gereja dan pemerintah Kabupaten Sikka sepakat bahwa Jumat adalah Hari Tanpa Nasi (Flores Pos, 22 Oktober 2011).

Bersamaan dengan pencanangan tersebut, Uskup Maumere Mgr G Kherubim Pareira SVD menanam tanaman lokal sebagai simbol bahwa pemerintah dan gereja komit mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pangan-pangan lokal sebagai langkah pemenuhan kebutuhan pangan. Kecukupan dan ketersediaan pangan itu dalam bahasa (jargon) pemerintah adalah ketahanan pangan. Ini artinya ketidakcukupan pangan menyebabkan masyarakat mengalami gizi buruk, kelaparan dan kemiskinan.

Wakil Presiden Boediono juga pada peringatan Hari Pangan Sedunia, di Gorontalo, Kamis (20/10/2011) mengingatkan rakyat Indonesia bahwa bangsa ini dihantui masalah rawan pangan (Flores Pos, 22 Oktober 2011). Karena itu Wakil Presiden meminta para pengambil kebijakan publik untuk mengambil langkah-langkah sistematis mengatasi rawan pangan.

Indonesia dengan komposisi penduduk terbesar bergerak di sektor pertanian memang tidak terlalu sistematis dan serius menangani masalah pertanian. Lembaga-lembaga pendidikan kita tidak kreatif dan inovatif mengembangkan inovasi-inovasi baru dalam bidang teknologi pertanian adaptif, yang bisa menolong para petani meningkatkan produktivitasnya.

Karena itu hampir umum kita jumpai di seluruh wilayah Indonesia bahwa pertanian kita tidak maksimal. Karena itu pula tidak heran bahwa pasar-pasar kita dibanjiri produk pertanian impor. Ini disebabkan karena pertanian kita, terutama di Flores sudah subsisten sifatnya dan minim pula dengan sentuhan teknologi pertanian.

Setali tiga uang dengan posisi lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga riset kita yang tidak mampu menjawab tantangan di dunia pertanian, kebijakan pemerintah kita juga sering kali keliru. Maka tidak terlalu mengherankan bahwa kita selalu mengalami ketidakcukupan ketersediaan pangan, yang dihasilkan dari bumi kita sendiri. Artinya untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri  kita mesti impor. Akibatnya pasar-pasar kita dikuasai produk pertanian yang dihasilkan oleh para petani di luar negeri.

Oleh sebab itu kampanye pangan lokal saat ini, bukan sekadar kampanye pola makan. Tapi jauh lebih luas dan dalam adalah bagaimana kita makan dari apa yang kita tanam dan hasilkan sendiri berdasarkan potensi dan kemampuan kita sendiri. Bisa saja ketahanan dan keamanan pangan kita cukup, tapi pangan tersebut tidak dihasilkan dari tanah kita sendiri. Dengan demikian kebijakan pertanian yang diambil oleh pemerintah kita juga harus mengarah ke sana.

Bentara, Flores Pos, 24 Oktober 2011