imlek di rutengRUTENG – Masyarakat Tionghoa di Manggarai merayakan Imlek di aula Misio Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santo Paulus Ruteng, Minggu (10/2/2013) malam, yang diawali dengan perayaan ekaristi syukur dipimpin Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng.

Dalam kotbanya Uskup Hubert meminta warga Tionghoa tidak menutup diri. Namun dia juga minta masyarakat Tionghoa memperkuat solidaritas baik ke dalam maupun keluar.

“Perayaan Imlek ini kiranya menjadi ajang bangun solidaritas, persaudaraan, dan kekeluargaan baik untuk sesama warga Thionghoa maupun dengan masyarakat lain. Jadi, bangun terus kesolidan dan keutuhan agar tidak terpecah,”kata Uskup Hubert dalam khotbah sebagaimana dilaporkan Flores Pos edisi 12 Februari 2013.

photo@christo lawudin
photo@christo lawudin

Uskup Hubert didampingi Vikjen Romo Laurens Sopang Pr, Provinsial SVD Ruteng P. Servulus Isaak SVD, dan puluhan imam konselebrantes.

Uskup Hubert mengatakan, tidak ada jarak lagi hubungan antara warga Tionghoa dan penduduk lokal. Hal ini terjadi karena warga Tionghoa sudah berbaur baik lewat kawin mawin maupun pergaulan hidup sehari-hari. Semua berhimpun dan bersatu karena sama-sama membangun Manggarai, tulis media.

Bupati Manggarai Christian Rotok mengatakan, sudah 3 tahun perayaan Imlek dirayakan di Ruteng. Tetapi, perayaan dilakukan dalam misa syukur. Bupati mengusulkan agar perayaan tahun depan juga ditonjolkan unsur budayanya. “Ini kiranya jadi perhatian ke depannya,” kata Rotok.

Ketua Umum Panitia, Dokter Yulianus Weng mengatakan, perayaan Imlek dilakukan bukan hanya perayaan rutin. Perayaan ini dibuat guna melestarikan budaya Tionghoa. Momen ini juga dimanfaatkan untuk menghilangkan stigma warga keturunan Tionghoa itu pelit, tidak peduli terhadap sesama dan lain-lain.

photo@christo lawudin
photo@christo lawudin

“Kami ingin pakai momen ini untuk hilangkan aneka stigma tidak baik untuk warga keturunan. Karena itu, kami berupaya untuk hidup membaur dengan warga sekitar. Dalam perayaan ini, kami adakan aneka kegiatan sosial seperti mengunjungi anak-anak panti asuhan, bantu korban bencana alam, dan kegiatan bakti sosial lain,”kata Weng kepada media.

Menurut Flores Pos, begitu banyak orang hadir dalam perayaan di gedung Misio yang berdaya tampung 1.000 orang lebih. Seluruh dekorasi didominiasi warna merah.*

Flores Pos, edisi 12 Februari 2013.