Oleh Frans Obon

ENDE — Pusat Koperasi Kredit (Puskodpit) Flores Mandiri kembali menggelar pertemuan dengan anak-anak pengurus dan pengawas koperasi kredit (kopdit) sebagai langkah terencana bagi kaderisasi dalam gerakan koperasi kredit di Flores. Kegiatan ini dianggap sebagai langkah tepat bagi keberlanjutan gerakan koperasi kredit dan berdampak pada makin diperkuatnya koperasi kredit sebagai lembaga keuangan di Flores.

Pertemuan 37 siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ini yang berlangsung 4-6 Juli 2013 di aula Puskopdit Flores Mandiri diisi dengan berbagai macam materi dan agenda kegiatan antara lain cerdas cermat untuk 100 soal yang telah disiapkan panitia, lomba keterampilan mengetik 10 jari, pidato, puisi, menyanyi, dan pendampingan rohani oleh Pater Redemptus Rage Djawa CSsR dan Pater Elias Doni SVD.

Pertemuan ini merupakan lanjutan dari pertemuan serupa bagi 58 siswa Sekolah Dasar dan 55 siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), beberapa waktu lalu. Para peserta berasal dari Ende, Ngada dan Nagekeo dengan tema besar pertemuan “Membangun Semangat Kebersamaan dan Persaudaraan Sejati sebagai Generasi Penerus Koperasi Kredit di Masa Depan”.

Manajer Puskopdit Flores Mandiri Mikhael Hongkoda Jawa mengatakan, gerakan koperasi kredit memiliki komitmen yang kuat atas keberlanjutan dan kemantapan gerakan koperasi kredit di Flores ke depan. Oleh karena itu Puskopdit ingin membangun kaderisasi dan regenerasi di kalangan anak-anak pengurus dan pengawas koperasi kredit agar sejak dini mereka menjadi generasi yang sadar dan mampu berkoperasi.

“Kegiatan ini bertujuan membentuk karakter generasi muda kita mulai dari sekolah dasar hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas agar mereka bisa mengatur dan memenej keuangan dengan lebih baik. Mulai dari sekarang anak-anak dilatih untuk disiplin menabung dengan menghemat dari uang jajan mereka, belajar membuat buku kas penerimaan dan pengeluaran dan membekali mereka dengan pemahaman yang benar dan cerdas mengenai gerakan koperasi kredit,” kata Mikhael, jebolan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero ini di ruang kerjanya di Puskopdit Flores Mandiri, Jumat (5/7).

Bahan untuk lomba pidato, kata Mikhael, fokus pada empat pilar utama dalam gerakan koperasi kredit yakni pendidikan, swadaya, solidaritas dan inovasi. Empat pilar ini telah menjadi roh bagi gerakan koperasi kredit sehingga diharapkan, melalui kegiatan ini empat pilar ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter anak-anak koperasi kredit. Membingkai empat pilar ini, anak-anak diberi pendampingan rohani.

Melalui anak-anak pengurus dan pengawas koperasi kredit ini, gerakan koperasi kredit bisa menjangkau lebih banyak anak lainnya untuk bergabung dengan koperasi kredit.

“Gerakan ini akan menjangkau anak-anak lainnya ke depan. Tetapi pada tahap awal ini, kami fokus pada anak-anak pengurus dan pengawas koperasi kredit. Dimulai dari orang yang paling dekat agar nilai-nilai yang dihayati oleh orangtua mereka bisa menjadi bagian dari nilai yang dihayati oleh anak-anak mereka terutama disiplin dalam penggunaan uang,” katanya.

Sementara itu Kosmas Lawa Bagho dari Puskopdit Flores Mandiri mengatakan, Puskopdit menyadari bahwa kaderisasi dan regenerasi itu perlu dilakukan secara terprogram dan terencana. “Pemberian pengetahuan dan keterampilan tentang pengelolaan koperasi kredit hendaknya diberikan sejak usia dini dari tingkat SD hingga SLTA sehingga mereka menjadi generasi yang melek koperasi dan calon pemimpin koperasi di masa depan,” katanya.

Selain itu kegiatan ini digelar untuk membentuk karakter hidup hemat dan menjauhi pola hidup boros dan perilaku negatif lainnya.

Seorang peserta Samuel Soi menilai pertemuan ini amat menarik dan merupakan kesempatan baik bagi dia untuk mengenal teman-teman lainnya, membangun kebersamaan dan persaudaraan sambil belajar bersama mengenai disiplin menggunakan uang dan memahami nilai-nilai dalam gerakan koperasi kredit.

Siswa Seminari Yohanes Berkhmans Mataloko ini mengatakan, dalam pertemuan ini dia bersama dengan teman-temannya belajar berdisiplin menabung dan menghindari sikap boros. Dia menilai banyak kalangan remaja ingin bersaing dengan temannya sehingga hal itu melahirkan sikap boros, membeli barang yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan.

“Banyak kaum remaja mementingkan keinginan daripada kebutuhan. Sikap ini lahir karena adanya sikap iri hati terhadap teman-temannya. Mereka ingin bersaing dengan teman-teman lainnya,” katanya, sambil menegaskan bahwa ketika kembali dari pertemuan ini, dia bersama-sama peserta lainnya akan memperkenalkan koperasi kredit kepada teman-teman remaja lainnya.

Hal senada disampaikan Desy Bupu Madha, siswa SMA Negeri 1 Aimere, yang merupakan utusan dari Kopdit Sinar Harapan. Desy ingin mengisi liburannya kali ini dengan kegiatan penting seperti ini. Sebab dalam kegiatan ini dia bersama peserta lainnya bisa belajar, dilatih dan dididik untuk disiplin menggunakan uang dan menabung untuk masa depan.

Dia bersyukur melalui kegiatan ini dia belajar hidup berkoperasi, mengenal prinsip-prinsip dasar koperasi, mengenal teman-teman lainnya serta melatih mental melalui berbagai materi pertemuan.
Dia mengatakan, banyak rekan-rekan sebayanya menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Melalui kegiatan ini dan gerakan koperasi kredit mereka belajar menabung dan berdisiplin dalam menggunakan uang.

Dia juga berjanji akan mengajak teman-temannya menabung di koperasi bagi masa depan mereka dan berusaha menjelaskan bahwa koperasi itu penting.